Alih-alih fokus pada pemetaan bakat dan persiapan menuju Porprov 2025,
Ketua KONI Berau Taupan Majid mengungkapkan, KONI kini berada dalam kondisi minimnya anggaran operasional hingga staf tak menerima gaji hampir sepuluh bulan.
Dalam situasi itu, Taupan tetap menegaskan pentingnya pembinaan usia dini sebagai pondasi utama lahirnya atlet berprestasi.
Namun ironisnya, proses pembinaan yang menuntut evaluasi rutin, pelatihan dan monitoring justru berjalan tersendat karena tergerus persoalan finansial KONI sendiri.
"Ruang gerak kami terbatas. Tanpa dukungan hibah, operasional benar-benar lumpuh,” jelas Taupan kepada Korankaltim.com Rabu (19/11/2025) hari ini.
Dampak paling nyata dirasakan staf administrasi dan petugas kebersihan yang hampir menutup kantor karena tidak kuat bertahan tanpa gaji.
Taupan mengakui, sempat ada solusi sementara dari BPKAD, namun hanya mampu menutupi tiga bulan pembayaran. Selebihnya masih menggantung.
Masalah ini terjadi sejak skema baru pembinaan atlet dialihkan sepenuhnya ke Dispora.
KONI Berau kini hanya memberikan rekomendasi, sementara pelaksana teknis berada di instansi tersebut.
“Yang jadi persoalan bukan pembinaannya, tapi operasional lembaga. Kami tidak bisa bekerja maksimal,” tegas Taupan.
Ketimpangan anggaran juga menjadi sorotan. Dengan 63 cabang olahraga aktif, alokasi satu hingga dua miliar dinilai jauh dari kebutuhan riil.
Menurutnya, minimal dibutuhkan anggaran setara periode sebelumnya, sekitar lima miliar, agar pembinaan dapat berjalan konsisten.
Sinergi pemerintah, swasta, dan pegiat olahraga mutlak dibutuhkan agar atlet tetap betah menggunakan nama Berau dalam pertandingan.
Apalagi, perpindahan atlet ke daerah lain akibat tawaran kesejahteraan lebih tinggi terus terjadi dan menjadi ancaman serius.
Saat kondisi keuangan organisasi yang “kering”, KONI Berau kini berada di dua persimpangan yakni menjaga semangat pembinaan usia dini atau tersandung oleh persoalan operasional yang tak kunjung terselesaikan.
Pemerintah daerah diharapkan segera memberikan solusi berkelanjutan. “Pembinaan harus terus jalan, tapi lembaganya juga harus hidup,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur