Kegiatan yang biasanya menjadi magnet utama perayaan, seperti Manutung Jukut hingga expo, resmi dibatalkan menyusul adanya tindak lanjut dari arahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) serta arahan langsung dari Inspektorat Jenderal Kemendagri.
Kabar pembatalan ini sontak menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Pasalnya, agenda tahunan tersebut tidak hanya sekadar hiburan, tetapi menjadi tradisi yang melekat di hati warga Bumi Batiwakkal. Bahkan banyak pihak mengaku kecewa lantaran perayaan yang biasanya meriah kini terasa berbeda.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Maulidiyah, menjelaskan secara anggaran kegiatan Manutung Jukut sebenarnya telah siap untuk dialokasikan namun pemerintah daerah harus mematuhi surat edaran Bupati Berau yang merupakan tindak lanjut arahan dari Kemendagri.
Arahan tersebut menekankan agar daerah berhati-hati dalam menggelar kegiatan yang berpotensi mengundang keramaian, mengingat kondisi saat ini yang rawan memicu kericuhan di berbagai daerah.
“Untuk Manutung Jukut, anggaran dan persiapan sudah lengkap. Namun karena sifatnya mengundang kerumunan besar dan lokasinya berdekatan dengan pemukiman masyarakat, risiko gangguan keamanan cukup tinggi. Maka dengan berat hati kegiatan ini dialihkan menjadi program pembagian ikan segar ke wilayah rawan pangan,” kata Maulidiyah.
Sebagai bentuk komitmen, Diskan Berau memutuskan mengalihkan anggaran Manutung Jukut ke program pembagian ikan segar ke wilayah rawan pangan seperti Kecamatan Kelay dan Segah.
Pelaksanaan kegiatan ini dijadwalkan pada Sabtu 20 September 2025 besok. Secara simbolis, penyerahan ikan akan dilakukan dengan mengundang para kepala kampung di dua kecamatan tersebut. Selanjutnya, penyaluran kepada masyarakat dilakukan oleh kepala kampung dengan berkoordinasi bersama RT setempat.
Pihaknya, telah menyiapkan sekitar 3,7 ton ikan segar untuk program ini. Ikan tersebut akan dikemas dalam 1.500 paket, dengan masing-masing berisi 2,5 kilogram. Keputusan pembatalan bukan karena keterbatasan anggaran. Justru, seluruh dana dan kepanitiaan telah siap sejak awal. Namun, potensi risiko keamanan yang menjadi alasan kuat pemerintah daerah mengikuti arahan pusat.
Dengan demikian, ia meminta masyarakat memahami kondisi yang ada. Keputusan ini memang berat, terlebih Manutung Jukut sudah menjadi ikon perayaan Hari Jadi Berau. Namun, keselamatan dan keamanan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Bahkan, saat terdengar isu yang beredar di masyarakat mengenai pembatalan karena kekurangan anggaran, Maulidiyah dengan tegas membantah hal itu. Dana sudah tersedia dan siap digunakan. Namun, semua harus tunduk pada arahan pemerintah pusat demi kebaikan bersama.
“Tidak benar kalau dibilang anggaran tidak ada. Kami sudah siapkan dari awal. Jadi sekali lagi, pembatalan ini murni karena faktor keamanan dan arahan dari pusat,” ucapnya.
Sebagai pengganti rasa kecewa masyarakat, ia pun berjanji kegiatan Manutung Jukut akan kembali digelar lebih meriah pada tahun 2026 mendatang.
“Yang paling penting adalah bagaimana esensi dari Hari Jadi tetap kita maknai bersama. Kebersamaan dan kepedulian antarwarga harus tetap terjaga,” pungkas Maulidiyah.
Editor: Aspian Nur