Wakil Bupati Berau, Gamalis, tampil berbeda dari biasanya. Bersama Ketua TP PKK Kabupaten Berau, Sri Aslinda Gamalis, keduanya mengenakan pakaian adat khas suku Bajau.
Pilihan yang tidak hanya unik, tetapi juga sarat akan makna budaya yang mendalam. Penampilan pasangan ini langsung menjadi pusat perhatian sejak mereka memasuki area perayaan.
Dengan atribut lengkap khas suku Bajau dan nuansa hitam yang dominan, Gamalis dan Sri Aslinda tampak anggun sekaligus tegas dalam menampilkan identitas budaya yang mungkin selama ini belum terlalu sering diangkat ke panggung utama.
“Kami memang sengaja memilih mengenakan pakaian adat suku Bajau tahun ini. Ini bagian dari komitmen kami untuk mengangkat dan melestarikan budaya lokal Berau,” ujarnya.
Perayaan sebelumnya, Gamalis memilih mengenakan pakaian adat Ga’ai yang berasal dari suku Dayak, khususnya dari Kampung Tumbit Dayak di Kecamatan Sambaliung. Kali ini, giliran budaya Bajau.
Kabupaten Berau memang dikenal memiliki keragaman budaya yang kaya. Tiga suku besar yang mendiami wilayah Bumi Batiwakmal yakni suku Banua, Bajau, dan Dayak, memiliki warisan adat istiadat yang unik, mulai dari bahasa, pakaian, hingga sistem nilai sosial yang dijunjung tinggi.
Dalam konteks ini, langkah Gamalis dan Sri Aslinda memilih pakaian adat Bajau tidak hanya sebagai simbol kebanggaan, tetapi juga sebagai upaya nyata untuk merawat dan mempromosikan keberagaman budaya Berau.
Gamalis mengungkapkan proses persiapan pakaian adat yang dikenakan kali ini dilakukan secara khusus.
Pihaknya melibatkan masyarakat asli suku Bajau dari Kampung Tanjung Batu untuk mempersiapkan pakaian yang dikenakan.
“Kami tidak mau asal-asalan. Ornamen dan makna setiap bagian dari pakaian ini sangat penting. Kami memanggil tokoh adat suku Bajaudari Tanjung Batu dan juga berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata, agar tidak ada kesalahan dalam penyampaian nilai budaya melalui pakaian ini,” jelasnya.
Salah satu keunikan dari pakaian adat yang dikenakan adalah dominasi warna hitam, yang menurut Gamalis merupakan ciri khas dari busana adat suku Bajau.
Warna hitam ini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan memiliki makna filosofis tersendiri yang berkaitan dengan keteguhan dan ketegasan karakter masyarakat Bajau.
Selain tampil memukau dengan pakaian adat, dirinya juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh generasi muda di Bumi Batiwakkal.
Dia mengajak para pemuda di Kabupaten Berau untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya leluhur mereka. Menurutnya, di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin deras, budaya lokal sering kali terpinggirkan.
“Kita punya kekayaan budaya yang luar biasa. Jangan sampai itu hanya menjadi cerita masa lalu. Anak-anak muda Berau harus bangga dan mau mengenal serta melestarikan budaya asli daerahnya,” tegas Gamalis.
Dirinya menekankan upaya pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dalam bentuk simbolik seperti mengenakan pakaian adat, tetapi juga harus diikuti dengan pemahaman nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Sebab, Gamalis yakin, dengan semangat kebersamaan dan kerja keras seluruh elemen masyarakat, Kabupaten Berau akan terus berkembang menjadi daerah yang maju dan sejahtera.
“Semangat ini harus terus dilanjutkan. Ini bukan sekadar simbol, tapi bagian dari jati diri kita. Saya yakin, dengan kerja sama antara kita semua, Kabupaten Berau akan mampu menjadi daerah yang lebih baik, maju, dan sejahtera,” tandasnya.
Editor: Erwi