Tradisi turun temurun ini, dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis didampingi Ketua TP PKK Berau, Sri Aslinda Gamalis.
Tradisi Buang Na’as menjadi tradisi turun temurun yang dilaksanakan di bulan Safar tahun Hijriah. Budaya bahari ini menjadi salah satu acara rutin tahunan dan telah masuk dalam kalender wisata.
Wabup Berau, Gamalis senantiasa mendukung segala bentuk pelaksanaan dan upaya pelestarian kebudayaan asli daerah.
Dirinya menyadari, ajang budaya semacam ini bukan hanya bertujuan mempertahankan tradisi bagi masyarakat kampung, tetapi juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata otentik Kabupaten Berau di masa kini dan masa yang akan datang.
Terlebih dalam waktu dekat, Kabupaten Berau akan memperingati Hari Jadi ke-71 dan Kota Tanjung Redeb ke-214. Tentu, ajang Tulak Bala atau Buang Nahas ini dapat menjadi salah satu rangkaian kebudayaan yang menarik bagi wisatawan.
“Dengan demikian, program pelestarian budaya harus terus didorong agar kekayaan khazanah budaya khas Banua, terus terjaga,” ujarnya.
Gamalis berharap, Kampung Talisayan dan sekitarnya dapat menjadi kampung budaya. Sehingga, destinasi wisata Berau, kelak tidak hanya berorientasi pada wisata alam bahari atau kekayaan alam bawah lautnya, tetapi juga wisata budaya yang masih dilestarikan turun temurun dan menjadi ciri khas daerah, selayaknya adat Tulak Bala atau Buang Nahas ini.
Gamalis, mendorong jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Pokdarwis, dan perangkat terkait untuk bersama-sama bersinergi mengembangkan potensi pariwisata dan budaya kita.
Dengan terus mempromosikan wisata budaya kepada generasi muda, warisan kekayaan budaya ini dapat terus terjaga, tanpa pernah lekang ditelan usia.
“Tulak Bala atau Buang Nahas merupakan bentuk harapan masyarakat kampung kepada Yang Maha Kuasa agar senantiasa diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala dan ancaman marabahaya,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana, acara adat ini merupakan warisan yang telah turun temurun dilaksanakan.
“Kita berharap kegiatan ini bisa berjalan sukses. Semoga semangat kebersamaan gotong royong dapat kita wujudkan dalam membangun Berau lebih baik,” harapnya.
Camat Talisayan, Yusup Gunawan menuturkan, upacara adat tulak bala merupakan acara yang diadakan rutin setiap tahun pada bulan safar di Kampung Talisayan.
Upacara adat Tulak Bala ini juga berkaitan erat dengan keakraban dengan laut, artinya masyarakat kampung khususnya untuk wilayah pesisir untuk selalu menjaga kelestarian dan kebersihan laut.
Sebab, sumber penghasilan masyarakat kampung banyak berasal dari laut. Ketika laut sudah tidak terjaga kebersihannya, merusak ekosistem laut, maka itu akan mempengaruhi pendapatan hasil laut dan berpengaruh pada ekonomi masyarakat.
“Kami selalu menghimbau sekaligus mengajak masyarakat, tolong perhatikan kebersihan sampah dan tertib dalam membuang sampah,” ujarnya.
Dirinya berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat menghidupkan kembali perekonomian di Kecamatan Talisayan serta mampu menumbuhkan kembali potensi wisata yang ada di setiap kampung di Kecamatan Talisayan.
“Saya pun berterima kasih atas bantuan anggaran dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk terus mendorong potensi-potensi kampung yang ada di Kecamatan Talisayan,” tandasnya.
Acara inti prosesi adat ini yaitu menyiramkan air linjuang, yaitu air yang telah disiapkan dan dibacakan doa kepada perwakilan anak-anak dari masyarakat kampung.
Prosesi dimulai dari tetua adat. Wabup Gamalis juga turut serta menyiramkan air linjuang yang sama, dilanjutkan oleh para pejabat yang hadir dalam prosesi adat ini.
Editor: Erwin