Dalam kunjungannya, Rudy menyampaikan pandangan kawasan pesisir tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau agar tidak hanya fokus pada fungsi proteksi abrasi, tetapi juga melihat peluang ekonomi dari sektor pariwisata.
“Itu bisa kita sisihkan, tanami magrove atau bakau. Itu jauh lebih cantik, karena pantai di Biduk-Biduk itu sudah sangat indah,’ ujar Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud kegiatan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Berau, beberapa waktu lalu.
Hal itu pun disampaikan langsung kepada Bupati Berau. Dikatanya, Pemprov Kaltim akan mendukung pembenahan yang bertujuan untuk menunjang sektor pariwisata di Kabupaten Berau.
“Kami akan dukung untuk sektor pariwisata Berau. Manfaatkan mitra Pemerintah Daerah yang ada. Pariwisata Berau ini tinggal kita benahi saja,” pesannya.
Pemprov Kaltim juga berkomitmen mengentaskan kawasan pantai kritis di Berau. Selain dengan pemecah ombak, Rudy juga mengedepankan langkah preventif penanaman pohon bakau.
Dirinya juga sempat menyampaikan pendapat, penanganan abrasi ini, ke depan akan menggunakan tetrapod atau bangunan pemecah ombak dengan struktur beton berkaki empat. “Yang pasti, bagian yang kritis abrasi akan kita benahi,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda mengatakan padatahun 2025 ini proyek pembangunan pemecah ombak akan tetap di lanjutkan.
Sejak tahun 2021-2024, pihaknya telah membangun jaringan pemecah ombak secara tersebar di sepanjang bibir pantai di Kecamatan Biduk-Biduk sepanjang 2.206 meter.
Jumlah ini mencakup setidaknya hampir dari separuh pantai dengan status kritis, serta mencapai 20 persen dari total panjang pantai di Biduk-Biduk yang mencapai 12 Km.
“Jadi, untuk 12 km akan kita benahi dengan tindakan preventif, yang urgen akan dibangun penahan agar tidak abrasi dan longsor dan sisanya akan ditanam bakau juga sesuai arahan pak gubernur,” paparnya.
Penanganan pada kondisi kritis di lapangan, terdapat penetapan metode yang akan digunakan tergantung pada situasi dan kondisi di lapangan.
“Arahannya kalau bisa ditanami bakau maka ditanami, kalau tidak bisa maka dipasang pemecah ombak, jadi tergantung kondisi lapangan sendiri,” paparnya.
Dari total 29,3 Km panjang pantai kritis di Kabupaten Berau, pihaknya masih fokus pada penanganan di Kecamatan Biduk-Biduk dengan panjang 5 Km.
Untuk wilayah lain, pihaknya masih menyesuaikan anggaran yang dimiliki Pemprov Kaltim. Sebab, pihaknya mengakui bahwa dalam pekerjaan DPUPR Kaltim banyak hal yang menjadi prioritas dan tidak semua dibelanjakan untuk penahan pantai.
“Banyak pekerjaan yang prioritas. Ada untuk jalan juga. Jadi kita lihat dari skalanya,” tutupnya.
Diketahui, penanganan abrasi di Kecamatan Biduk-Biduk, Berau telah dilaksanakan oleh Pemprov Kaltim sejak tahun 2021 lalu. Bahkan, proyek masih dilanjutkan sampai tahun 2025 ini dan menelan anggaran hingga Rp4 miliar untuk 165 meter.
Editor: Erwin