Kegiatan ini menjadi rangkaian Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-262 tahun. Bekudung Betiung menjadi daya tarik wisatawan mengenal budaya bahari suku Dayak Ga'ai.
Ketua Panitia Festival Budaya Bekudung Betiung, Wahyu Ramdani mengatakan, festival budaya yang digelar setiap tahun ini, menghabiskan biaya kurang lebih Rp463 juta yang bersumber dari Alokasi Dana Kampung (ADK) dan kontribusi pihak ketiga hingga sumbangan dari masyarakat sekitar.
Berbagai keperluan selama kegiatan telah disalurkan, mulai dari biaya transportasi Rp3 juta lebih, keperluan kerja bakti selama satu minggu hingga persiapan acara sekitar Rp90 juta, biaya promosi sekitar Rp45 juta, biaya konsumsi sekitar Rp197 juta dan biaya perlengkapan lainnya Rp93 juta.
"Sebenarnya ada kurangnya, tapi tidak banyak sekitar Rp4.415.000 dan masih bisa diatasi," ujarnya.
Lanjutnya, festival budaya ini bukan sekedar peringatan hari jadi saja, melainkan menjadi wujud pelestarian adat istiadat leluhur yang dilaksanakan tiap tahun secara turun temurun.
Bekudung Betiung sendiri memiliki arti pesta syukuran setelah panen. Oleh sebab itu, Bekudung Betiung digelar untuk menyampaikan rasa syukur kepada pencipta atas hasil panen yang dihasilkan.
"Festival Bekudung Betiung juga memuat banyak rangkaian adat, mulai dari proses Jak Gai, Batiung, Bei'iak, hingga mengunjungi Rumah Kepala Tug," tuturnya.
Selain itu, ada pula tradisi Panjat Piruai, yaitu proses pengambilan madu di pohon tinggi dengan berjalan di seutas rotan dari satu pohon ke pohon lainnya.
"Secara pribadi saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam merayakan festival Budaya Bekudung Betiung ini. Semoga acara ini bisa memberikan manfaat serta mempererat silaturahmi kita semua," tungkasnya.
Sementara itu, Asisten III Setda Berau, Maulidiyah mewakili Bupati Berau, Sri Juniarsoh Mas mengapresiasi atas terselenggaranya Festival Budaya Bekudung Betiung ini.
Bekudung Betiung ini menjadi sarana untuk mempertahankan adat, budaya dan tradisi asli di Kabupaten Berau agar terus lestari dan bermanfaat untuk generasi yang akan datang.
"Saya lihat Festival Budaya Bekudung Betiung yang terselenggara ditahun ini jauh lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Dan ini harus ditargetkan Masuk Karisma Event Nusantara (KEN)," ujar Maulidiyah.
Festival Budaya Bekudung Betiung merupakan ajang tahunan yang dilaksanakan untuk mempertahankan tradisi adat budaya asli Kampung Tumbit Dayak.
Ia berharap, festival ini mampu memberikan efek kepada masyarakat kampung. Seperti mendatangkan atau meningkatkan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Selain itu, Maulidiyah menegaskan kepada seluruh masyarakat Berau agar tidak malu memakai produk yang dihasilkan oleh ekonomi kreatif dan UMKM Berau.
Karena, ia menilai, dari segi kualitas dan penampilan produk UMKM tidak kalah dari produk-produk lainnya.
"Hal ini diharapkan mampu memperkenalkan produk lokal dan ekonomi masyarakat dapat bangkit," katanya.
Kendati demikian, ia menekankan festival ini harus tetap dilestarikan, sebab didalamnya rangkaian kegiatan terdapat banyak arti sejarah yang perlu dijaga dari generasi ke generasi yang akan datang.
"Dengan kita merawat adat budaya, akan meningkatkan potensi pariwisata dan memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat," tandasnya.
Editor: Erwin