Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau telah melaksanakan lelang proyek untuk menghentikan laju abrasi yang mengancam kawasan wisata unggulan Bumi Batiwakkal.
"Di tahun 2025 ini, saya sudah berkoordinasi dengan PUPR, bahkan kami sudah sampai di tahap kajian publik terkait dengan apa yang akan kita lakukan di sana," ujar Kepala Kampung (Kakam) Pulau Derawan, Indra Mahardika, Minggu (2/26/2025).
Dalam waktu dekat ini, tim konsultan dari PUPR juga akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan lokasi serta penempatan material yang dibutuhkan.
"Untuk sementara, estimasi anggaran yang dikeluarkan sekitar Rp20 hingga Rp25 miliar," jelasnya.
Anggaran tersebut disesuaikan dengan panjang dan luas wilayah yang terdampak abrasi. Diperkirakan, area yang akan ditangani berada dalam kisaran 50 hingga 200 meter dari bibir pantai.
Indra berharap, melalui penanganan ini tidak hanya untuk menyelamatkan garis pantai, tetapi memberikan ruang lebih aman dan nyaman bagi para wisatawan berkunjung ke Pulau Derawan.
"Untuk persiapannya sudah rampung. Kami tinggal menunggu proses eksekusi dari pihak terkait," tutupnya.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Berau, Saga mengakui, permasalahan wilayah pesisir khususnya Pulau Derawan dan Maratua ialah abrasi.
Penanganan abrasi bukan perkara mudah. Dibutuhkan perencanaan serta anggaran yang cukup besar dalam realisasinya.
"Kami sudah ada anggarkan Rp25 miliar. Tapi realisasinya masih belum maksimal karena lemahnya perencanaan," tegasnya.
Menurutnya, perencanaan abrasi harus disesuaikan dengan kondisi alam dan tidak bisa disamakan seperti di Sumatera atau Jawa. Terlebih, Pulau Derawan memiliki keunikan alam tersendiri dan bukan hanya destinasi wisata unggulan di Bumi Batiwakkal.
Sehingga, bila tidak ditangani dengan benar, bukan tidak mungkin bibir pantai terus mundur ratusan meter.
"Maka kita sarankan ke pemerintah daerah, provinsi, agar penanganan abrasi ini betul-betul dikaji secara maksimal. Bukan hanya berdasarkan keinginan konsultan atau PUPR saja,” tegasnya.
Saga juga mengingatkan agar perencanaan pembangunan tidak dilakukan asal jadi. Sebab, banyak pembangunan di Berau yang berakar pada lemahnya perencanaan sejak awal.
Pihaknya, berkomitmen sebagai wakil suara warga Pulau Derawan agar bisa mengawasi setiap proses agar lebih tepat sasaran.
“Pulau Derawan punya keistimewaan yang tidak dimiliki pulau lain. Salah satunya adalah keberadaan air tawar di tengah laut asin. Ini anugerah yang harus kita jaga. Jangan sampai karena kelalaian kita, abrasi makin parah dan keistimewaan itu hilang,” tutupnya.
Editor: Erwin