Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau Fendra Firnawan mengakui dalam penanganan banjir ini mereka masih menggunakan masterplan lama yang masih terfokus pada pembuatan drainase dan kolam resapan.
Banyak saran dan masukkan yang diterima terkait permasalahan banjir ini diantaranya peremajaan masterplan banjir. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat terdapat perubahan bentang lahan, hingga perluasan kawasan pemukiman di pusat kota dan di kampung. “Kondisi itu memang ada pengaruhnya terhadap masterplan yang ada,” ujar Fendra kepada Korankaltim.com Kamis (24/4/2025) hari ini.
Namun untuk melakukan review atau tinjau dokumen masterplan banjir DPUPR Berau siap melakukannya. Fendra mengklaim saat ini peta sebaran banjir di Bumi Batiwakkal sudah semakin mengecil dan banjir hanya terpusat di kawasan perkotaan. “Sudah mengecil kawasannya. Dan rencana review masterplan kami bahas secara internal dulu," jelasnya.
Maraknya pembangunan kawasan permukiman baru menjadi alasan utama perlunya pembaruan dokumen perencanaan tersebut. Saat ini DPUPR sudah memulai proses review terhadap dokumen masterplan drainase yang lama. Karena dokumen yang ada saat ini sudah tidak relevan dengan kondisi daerah.
Perubahan tata lahan secara signifikan telah memengaruhi pola aliran air, sehingga sistem drainase yang lama tidak lagi mampu menampung debit air hujan secara optimal, terutama di musim penghujan. “Kami berharapnya pembaruan ini dapat mengatasi titik-titik rawan banjir di wilayah kota,” ujarnya.
DPUPR Berau menargetkan proses pembaruan dokumen yang akan rampung dalam waktu dekat ini. Fendra optimistis dengan adanya perencanaan drainase yang lebih sesuai dengan kondisi eksisting, upaya mitigasi banjir di wilayah perkotaan bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. “Jadi, kami akan fokus untuk mengurangi banjir di kawasan perkotaan Berau,” pungkas Fendra.
Editor: Aspian Nur