Penataan bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang akan menyeberang ke destinasi wisata unggulan Berau seperti Pulau Derawan dan Pulau Maratua.
Saat wisatawan hendak menyeberang akan pertama kali melihat area kios cinderamata di sisi kanan, tepat di depan Kantor Kecamatan Pulau Derawan. Kios ini akan menampilkan berbagai hasil karya dan potensi dari seluruh kampung di Kabupaten Berau.
Di sisi kiri jalan, pengunjung akan melihat gedung dua lantai yang bertuliskan Tourism Information Center (TIC) yang bergandengan dengan Gedung Lovely Berau, yang kini dikenal sebagai ikon pariwisata Bumi Batiwakkal.
Gedung TIC ini nantinya akan berfungsi sebagai pusat informasi pariwisata Berau, yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Selain itu, pihaknya juga menyediakan area kuliner yang dilengkapi dengan kios, area dapur serta fasilitas kursi dan meja bagi pengunjung yang ingin bersantap sambil bersantai.
“Supaya, pengunjung yang datang atau pulang dari berwisata, bisa langsung bersantai sambil melihat cinderamata khas Berau,” ucap Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir.
Dikatanya, tujuan pembangunan kawasan itu, untuk meningkatkan pendapat masyarakat sekitar atau UMKM melalui pariwisata.
“Secara keseluruhan, ini sudah selesai. Yang belum ini, semacam panggung hiburan yang menghadap ke laut,” tuturnya.
Nantinya, Gedung TIC akan digunakan sebagai sarana informasi pariwisata yang akan di isi oleh Pokdarwis dan beberapa organisasi lainnya.
Kemudian, untuk Gedung Lovely Berau diperuntukkan sebagai pameran galery objek pariwisata Berau dan potensi kampung. “Tahun ini kita usahkan sudah beroperasi,” tandasnya.
Sementara itu, Staf Teknis atau Pengawas Kepariwisataan, Andi Nursyamsi mengatakan, kawasan wisata Tanjung Batu KSPN Derawan terdiri dari 15 kios kuliner atau UMKM dan 18 kios untuk cinderamata atau pusat oleh-oleh khas Berau.
Pembangunan ini, kolaborasi antara Anggaran APBD Perubahan tahun 2024 sebesar Rp2 miliar dan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik pariwisata dengan total Rp5,4 miliar.
Diakui, proses pembangunan kawasan wisata tersebut sempat mengalami pro dan kontra. Sebab, kawasan yang saat ini ditempat untuk kios cinderamata menutup sebagian lapak usaha yang telah lama berjualan disana.
Namun, sebelum itu, pihaknya telah berkoordinasi dan menjelaskan maksud dan tujuan kawasan wisata itu.
“Area ini sebenarnya sudah lama ada. Hanya kami membantu menata kembali sesuai standar pariwisata saja,” tuturnya.
Bahkan, untuk membantu agar perputaran ekonomi masyarakat tetap berjalan, proses pembangunan dilakukan secara bertahap.
Di mana, 18 kios cinderamata diselesaikan terlebih dahulu agar para pelaku UMKM yang berjualan dapat sementara menempati kios tersebut, sembari menunggu 15 kios kuliner rampung.
Sebelum para UMKM yang menempati kios cinderamata saat ini berpindah, Disbudpar tengah berkoordinasi dengan pihak Bapenda Berau untuk menentukan tarif retribusi sesuai regulasi yang ada.
“Tarif retribusi itu, nantinya digunakan untuk kebersihan dan biaya operasinal kios,” jelansya.
Untuk pengelolaan tersebut, masih perlu dikoordinasikan bersama Dinas Perikanan (Diskan), Disbudpar, pemerintah kampung dan Pokdarwis.
“Yang menetapkan nanti bupati. Apakah dikelola secara kolaborasi atau satu pihak saja,” tandasnya.
Editor: Erwin