Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan melalui pangan yang dikonsumsi balita dan ibu hamil, sebagai dasar menentukan tumbuh kembang balita tersebut maupun bayi yang dikandung.
Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Berau, Sufian Agus mengatakan kebijakan dan program percepatan penurunan stunting diarahkan untuk mendukung pencapaian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada angka 14 persen pada tahun 2024.
Sementara itu, Kabupaten Berau berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi balita wasting sebesar 7,1 persen, balita stunting sebesar 23,0 persen, balita underweight sebesar 19,4 persen dan balita overweight sebesar 4,9 persen. Sedangkan prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 27,7 persen dan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) sebesar 16,9 persen. “Angka ini, menjadi pekerjaan besar bagi kita semua,” ucapnya.
Sehingga, Sufian mengimbau agar setiap kegiatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Berau dapat menyisipkan kegiatan- kegiatan pencegahan stunting. Sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 70 tahun 2023 yang bertujuan untuk menekankan penurunan stunting.
“Saya lihat, setiap kegiatan OPD ada penyisipkan program penurunan stunting. Saya apresiasi itu dan minta itu ditingkatkan lagi,” tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie menjelaskan target penurunan stunting pada tahun 2023 sebesar 17,5 persen dan pada tahun 2024 sebesar 14 persen.
Menurutnya, masalah gizi balita dan ibu hamil masih cukup tinggi. Masalah gizi disebabkan oleh berbagai faktor. Kekurangan asupan makanan bergizi atau terinfeksi penyakit menjadi salah satu penyebab langsung terjadinya masalah gizi.
Pola asuh yang kurang tepat, kurang pengetahuan, sulitnya akses ke pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh secara tidak langsung terhadap akses makanan bergizi dan layanan kesehatan.
“Ini menjadi tantangan bersama. Bagaimana memberantas angka stunting di Berau yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah,” ujarnya.
Seperti Perbup Nomor 70, bab VII menjelaskan terkait strategi pendekatan dalam menangani penurunan stunting. Seperti sistem jemput bola, tetapi tidak dengan cara door to door. Melainkan dikumpulkan pada suatu wadah dan diberikan pemahaman terkait gizi.
"Seperti kegiatan rutin posyandu. Bisa buat kegiatan menarik yang mengedukasi masyarakat terkait mencegah stunting. Itu yang kita dorong sampai sekarang," tutupnya.
Editor: Supiansyah