Pertemuan monitoring ini diikuti 115 peserta mulai dari kepala puskesmas, camat, lurah, kepala kampung (kakam), kader pelaksana PMT se-Kabupaten Berau serta Organisi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekkab Berau M Hendratno membuka acara ini.
Kepala Dinkes Berau Lamlay Berau menjelaskan kegiatan bertujuan untuk menjelaskan PMT berbahan pangan lokal bagi ibu hamil KEK dan penyelenggaraan PMT berbahan pangan lokal bagi balita.
Selain itu juga memonitoring pelaksanaan PMT berbahan pangan lokal di tingkat kampung termasuk menjelaskan pembiayaan dan memberikan pemahaman adminitrasi PMT berbahan pangan lokal ke seluruh peserta.
Diketahui Kementerian Kesehatan RI telah menyediakan pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan PMT berbahan pangan lokal melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik.
Pemkab Berau telah menerima penyaluran dana DAK non fisik tahun anggaran 2024 untuk seluruh Puskesmas di Bumi Batiwakkal.
"Realisasi anggarannya sudah dilaksanakan dari bulan Juli- Oktober 2024. Pertemuan monitoring ini sekaligus evaluasi kami, terkait kendala pelaksanaan di lapangan," kata Lamlay dalam acara tersebut.
PMT berbahan pangan lokal merupakan satu diantara strategi penanganan masalah gizi pada balita dan ibu hamil sehingga kegiatan PMT berbahan pangan lokal diharapkan mendorong kemandirian pangan dan gizi keluarga secara berkelanjutan.
Setidaknya terdapat 77 jenis sumber karbohidrat, 30 jenis ikan, 6 jenis daging, 4 jenis unggas, 4 jenis telur, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran dan 110 jenis rempah.
Hal ini menunjukkan potensi pemanfaatan pangan lokal sangat terbuka luas termasuk untuk penyediaan pangan keluarga dan balita. "Fakta di lapangan. Ketersediaan bahan pangan lokal yang ada di Berau belum dimanfaatkan dengan maksimal," ucap Lamlay lagi.
Sementara Hendratno menambahkan, kader Posyandu sebagai layanan kesehatan ibu dan balita sudah seharusnya menjalankan program PMT berbahan pangan local selain mengoptimalkan angka kunjungan, pengukuran, dan penyuluhan. "Potensi yang luar biasa yang dimiliki Bumi Batiwakkal. Sudah sepatutnya dimaksimalkan," ujar Hendratno.
Editor: Aspian Nur