Jalan Poros Gunung Tabur dan Tanjung Batu yang dikelilingi hutan jadi sebagian kawasan yang mengalami karhutla tersebut bahkan menurut keterangan pengendara yang melintas di lokasi tersebut, kobaran api cukup besar, terjadi persis di tepi jalan yang merupakan akses utama antara Kecamatan Gunung Tabur dan Tanjung Batu.
Asap hitam akibat Karhutla tersebut menutupi pandangan pengendaran dan hal ini tentu sangat mengganggu. "Berbahaya sekali, waktu saya lewat dari jauh sudah ada asap tebal dan posisi saya persis bersampingan dengan sumber api. Lokasi karhutla berjarak sekitar 100 meter dengan rumah warga," kata seorang pengendara kepada Korankaltim.com Minggu (11/8/2024) hari ini.
Wakil Bupati Berau Gamalis yang dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan, suhu panas yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir memang beresiko tinggi terhadap Karhutla terlebih di Berau ada beberapa titik rawan terjadinya kebakaran.
Gamalis meminta tim teknis untuk terus memprioritas upaya pencegahan maupun penyiapan sarana dan prasarana pengendalian karhutla termasuk penegakan hukum tanpa kompromi terhadap pelaku kebakaran hutan dan lahan.
“Infrastruktur pemantauan dan pengawasan harus sampai tingkat bawah dan melibatkan semua unsur pemerintahan dan masyarakat,” ujar Gamalis.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang Januari-Juli 2024 terdapat 9.148 titik panas atau hotspot terpantau muncul di Kalimantan Timur. “Mulai sekarang harus siap siaga dengan mempersiapkan sumber air, memperkuat tenaga yang membantu di lapangan dan juga kita harapkan peran perusahaan swasta untuk bersama sama mencegah dan mengendalikan karhutla,” ucap Gamalis.
Sementara Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Berau Nofian Hidayat menyebut saat ini Berau sedang mengalami cuaca cukup ekstrem sehingga upaya pencegahan dini Karhutla sangat perlu dilakukan mengingat embusan angin juga cukup kencang dan sangat berpotensi merusak lahan gambut. "Tahun lalu Berau menjadi wilayah dengan titik api tertinggi," sebut Nofian.
Kondisi ini, diperparah dengan tidak adanya hujan, serta angin kencang dan terik matahari. Tak hanya itu, pihaknya mengeluhkan minimnya personel saat ini sehingga penanganan Karhutla sedikit sulit untuk cepat dilakukan. "Kalau perkebunan belum ditemukan indikasi terbakar," tutup Nofian.
Editor: Aspian Nur