Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, Masyahadi Muhdi mengungkapkan, awalnya banjir terjadi di Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, sementara longsor terjadi di Kampung Pilanjau.
Dampaknya, satu pondok nelayan rusak akibat banjir, sedangkan akses jalan masyarakat menuju gereja terputus karena jembatan kayu yang menjadi jalur utama terkena dampak longsor.
"Curah hujan tinggi dan letak Kampung Buyung-Buyung yang dikelilingi muara sungai menjadi penyebab terjadinya banjir," ungkap Muhdi.
Di Kampung Pilanjau, tercatat 12 rumah rawan terjadi longsor. BPBD telah berkoordinasi dengan Unit Siaga Tabalar untuk tanggap bila ada laporan dari masyarakat terkait kemungkinan longsor susulan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis menekankan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk segera melakukan rehabilitasi total, terutama pada jembatan kayu yang menjadi akses vital bagi masyarakat.
"Segera lakukan perbaikan total pada jalan yang terkena dampak banjir dan longsor," tegasnya.
Gamalis juga menyoroti pentingnya drainase yang baik, mengingatkan DPUPR untuk serius mengkaji penanganan banjir.
"Putusnya jalan dan sumbatnya gorong-gorong oleh lumpur menjadi penyebab utama jalan ambruk. Gorong-gorong tersebut akan segera diganti," jelasnya.
Sementara itu, masyarakat Kampung Pilanjau masih memiliki akses alternatif berupa jalan kayu yang hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
Gamalis menegaskan bahwa penanganan jalan longsor akan dilakukan sesegera mungkin karena dampaknya sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Longsor sangat berdampak pada kegiatan masyarakat, seperti sekolah dan ekonomi. Namun, kami optimis dapat menangani situasi ini," pungkasnya. (*/kk)
Editor: Maruly Z