“Jika ada yang mengatakan rusak atau disia-siakan, itu tidak benar. Alat tersebut belum bisa dioperasikan karena tenaga teknisnya belum ada. Harus kita siapkan itu dari dokternya, perawat serta operatornya. Kesemuanya saat ini belum ada sehingga operasi alat tersebut tidak berjalan,”terang Kabid Yankes, Drs HA Djabbar Kareem kepada Koran Kaltim, kemarin, di ruang kerjanya.
Pada tahun anggaran perubahan ini Dinkes telah mengajukan anggaran buat menyekolahkan lima orang tenaga teknis buat pengoperasian alat HBOT tersebut. “Kita mengusulkan di Perubahan ini penganggaran buat memberikan pelatihan ke tenaga teknis kita. Namun, yang mirisnya disini, kita ini selalu bertabrakan dengan kebijakan yang di atas. Jika nanti sudah ada tenaga teknisnya, malah dimutasi dan tentu saja ini yang membuat kami dilema,”terangnya.
Kondisi ini mendapat perhatian Forkot (Forum Komunikasi Kota) Tanjung Redeb. Humas Forkot Junaidi mengungkapkan, harga alat itu sekitar Rp8 miliar lebih dan pengadaannya masuk tahun anggaran 2015. Akan tetapi, alat secanggih itu malah tidak digunakan.
“Belum lagi, seharusnya alat secanggih ini tidak usah disimpan jauh-jauh di Kecamatan Pulau Derawan, khususnya di Kampung Tanjung Batu. Cukup ditaruh di Kota Tanjung Redeb atau di RSUD Abdul Rivai. Ada kepentingan pribadi yang membuat mesin canggih nan mahal ini harus ditempatkan di pelosok,”tukas Junaidi. (ind)