Melihat kondisi tersebut, Ketua DPRD Berau, Madri Pani mempertanyakan alat penyedot lumpur yang didatangkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau yang dianggap sebagai solusi untuk mengatasi banjir di beberapa titik perkotaan.
Pasalnya, bila melihat kondisi sekarang, adanya alat penyedot lumpur tersebut masih dianggap kurang efisien mengatasi banjir. Menurutnya, masalah banjir di perkotaan lebih kepada tidak terkoneksinya sistem drainase. Sehingga, ketika terjadi hujan dengan curah yang tinggi, menyebabkan debit air meluap.
“Masyarakat banyak mengkritik. Percuma drainase dibangun karena tetap banjir. Masterplan terkait perencanaan drainase itu pun belum tuntas,” kata Madri, Jumat (15/3/2024).
Seharusnya menurut Madri, Pemkab Berau perlu memprioritaskan pembangunan dan perbaikan drainase dibandingkan membeli alat penyedot lumpur. Bukan hanya sekadar pembangunan drainase saja, namun perlu adanya koneksi dalam perencanaan.
“Kalau sudah dilakukan perbaikan, tiba-tiba terjadi hujan dengan intesitas deras dan kembali banjir berarti ada kesalahan dalam perencanaannya,” tegasnya.
Madri juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk gotong royong. Sebab, bila hanya mengharapkan pada alat saja tanpa adanya kesadaran dari masyarakat tentang kebersihan maka hasilnya akan tidak maksimal.
“Alat itu bukan di atas segala-galanya, tapi tentang kesadaran masyarakat tentang kebersihan, itu yang lebih penting,” tuturnya.
Madri berharap agar Pemkab Berau dapat segera menyikapi masalah ini sesuai dengan masterplan yang telah ada. Perlu adanya kesadaran tentang kebersihan, penumpukan sampah, pasir maupun lumpur digorong-gorong bisa dituntaskan.
"Kalau alat hanya satu bagaimana mau memback up keseluruhan drainase yang tersumbat,” pungkasnya.
Editor: Maruly Z