Pasalnya, kurang lebih 100 anak-anak pelajar berkebutuhan khusus, hanya ada 35 tenaga pengajar yang artinya setiap satu guru harus mengajar delapan murid.
Pemkab Berau pun mempertimbangkan penambahan tenaga pengajar bagi anak-anak pendidik yang berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Tanjung Redeb.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, langkah ini sebagai bentuk pengakuan akan kemampuan anak-anak yang berkebutuhan khusus sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap upaya kemajuan, perlindungan, serta pemenuhan hak-hak anak berkebutuhan khusus dalam berbagai aspek kehidupan.
"Tenaga pengajar masih kurang sebenarnya, tapi sudah disampaikan kepada dinas terkait untuk bisa ditambah supaya murid-murid lebih maksimal untuk mendapatkan pendampinganya," kata Sri Kepada Korankaltim.com, Selasa (12/3/2024).
Berau juga memiliki forum anak berkebutuhan khusus sebagai organisasi yang mewadahi anak yang berkebutuhan khusus. "Sehingganya sudah menjadi tugas kami untuk menjadikan kesetaraan dan berkomitmen untuk menjamin akses pendidikan serta menyediakan wadah pembinaan minat bakat," ujar Sri lagi.
Sri juga mendorong peran aktif dari jajaran Dinas Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A), Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan stakeholder terkait untuk terus berinovasi, merumuskan langkah dan kebijakan terpadu demi terwujudnya rasa nyaman berkehidupan bagi anak-anak kita yang berkebutuhan khusus.
"Untuk sertifikasinya kami coba lihat untuk regulasi ketika itu memang ada regulasinya dicoba karena ini anaknya dari tingkat Sekolah Dasar sampai SMA," sebut Sri.
Terpisah, Sekretaris DPPKBP3A Berau Halijah mengatakan saat ini anak-anak berkebutuhan istimewa membutuhkan perhatian lebih, terutama bila berkaitan dengan proses belajar anak. Peran guru dan orangtua sangat penting untuk membantu anak-anak istimewa mendapatkan pengetahuan tentang strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.
Diperlukan strategi penanganan anak agar proses belajar bisa berjalan lancar. "Karena ada beberapa kondisi anak tersebut kesulitan dalam berbagai aspek, seperti membaca, menulis dan berhitung," kata Halijah.
Kondisi seperti ini biasa dikenal sebagai Disleksia, kesulitan anak dalam berhitung disebut Diskalkulia dan kesulitan dalam menulis yakni Disgrafia.
Untuk menciptakan perkembangan kemampuan dasar tersebut dibutuhkan kerja sama antara guru dan orang tua serta anggota keluarga dirumah. "Jadi tidak hanya guru saja. Tapi peran orang tua dan keluarga di rumah sangat penting," jelas Halijah.
Editor: Aspian Nur