Belum adanya USG di Puskesmas Long Boy disebabkan akses mobilitas menuju ke Puskesmas tersebut tidak mudah. Untuk menuju Kampung Long Boy diperlukan waktu yang cukup lama, sebab akses ke Kampung Long Boy cukup jauh dan pedalaman. Dan warga lampung ini dikelilingi oleh hutan dan keseharian masyarakat kampung ialah berkebun dan mencari ikan di sungai.
“Jadi salah satu alasan belum tersedianya alat USG di Puskesmas Long Laai bukan hanya akses transportasinya, tetapi salah satunya kerena pengadaan memang tidak sekaligus jadi secara bertahap,” tuturnya.
Lamlay menyadari, pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Terlebih target tahunan penurunan prevalensi stunting pada 2023 sebesar 17,5 persen dan tahun 2024 ditargetkan menjadi 14 persen.
Terkait strategi pendekatan seperti sistem jemput bola bisa diterapkan, namun tidak door to door, melainkan dikumpulkan pada suatu wadah dan diberikan pemahaman terkait gizi.
Menurutnya, banyak orangtua yang tidak memahami pentingnya akan gizi yang harus diberikan kepada anak-anak usia dini. Sebab, stunting tidak hanya menyerang keluarga tidak mampu saja. Selain pemahaman gizi, penting juga pemaparan tentang kemandirian keluarga, gerakan masyarakat hidup sehat, gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), gerakan bersama wujudkan kelas gizi balita.
“InsyaAllah tahun ini akan dipenuhi kebutuhannya,” tutupnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Muhadjir Effendy didampingi Asisten Deputi Peningkatan Pelayanan Kesehatan Kemenko PMK, Nia Reviani saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Berau beberapa hari lalu mengatakan, sebagai langkah mendorong percepatan penurunan angka stunting di Berau, dirinya meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau untuk segera mengecek kondisi alat USG dan Antropometri di setiap Puskesmas atau Posyandu.
Menurutnya, seluruh Puskesmas maupun Posyandu sudah seharusnya memiliki kedua alat ini baik USG dan Antropometri. Sebab, sasaran awal pencegahan stunting dimulai sejak bayi berada di dalam kandungan ibunya. Sehingga perlu dilakukan intervensi yang lebih kepada ibu dan calon bayi dengan memberikan makanan bergizi kepada ibu yang sedang hamil.
Editor: Maruly Z