Kepala Disbun Berau, Lita Handini mengatakan, saat ini produksi kakao di Kecamatan Kelay baru ada kurang lebih 100 hektare dengan kondisi usia kakao sudah di atas 30 tahun, sehingga produksinya pun masih kurang karena pohon kakaonya sudah terlalu tua.
Sehingga, sebagai upaya meningkatkan produksi kakao di Kecamatan Kelay, pihaknya memanfaatkan lahan bekas perusahaan sawit seluas 3 ribu hektare untuk dilakukan peremajaan dan merehabilitasi pohon-pohon kakao yang sudah tua.
"Ada potensi pengembangan di sana lahan 3.000 hektare, lahan itu bekas perusahaan sawit. Karena izin lokasi Izin perusahaan sawit tidak ada progresnya, akhirnya dicabut oleh pemerintah daerah," ungkap Lita, Kamis (18/1/2024).
Pengembangan lahan telah direncanakan oleh pemerintah daerah sebagai langkah pencadangan untuk pengembangan kakao. Hal ini bertujuan, untuk memenuhi permintaan kakao baik luar negeri maupun dalam negeri yang hingga saat ini masih belum bisa memenuhi permintaan pasar.
Namun, ia mengakui pengembangan tersebut membutuhkan upaya yang besar, sehingga pihaknya lebih memprioritaskan untuk mengundang investor masuk untuk pengembangan dalam skala luas.
"Karena kalau 3 ribu hektare dikembangkan masyarakat oleh masyarakat itu agak susah. Jadi, itu arahnya untuk investor. Sampai hari ini kami masih menunggu investor yang berminat," katanya.
Lita mengaku, saat Gubernur Kaltim berkunjung ke Berau, sudah ada peluang investor dari perusahaan Jepang yang berminat mengembangkan kakao di Kaltim seluas 10 ribu hektare dan tawaran tersebut ditujukan kepada Kabupaten Berau.
"Kita siap 3 ribu hektare yang di Kelay, sisanya masih mencari. Karena mencari lahan Hak Pengelolaan Atas Tanah (HPL) clear and clean agak susah," tegasnya.
Dengan peminat pasar yang cukup banyak, pasokan kakao sebagai bahan baku cokelat yang belum bisa terpenuhi.
Berdasarkan data Disbun Berau, luas lahan kakao saat ini sisa 1.003 hektare dari 2.500 hektare. Penurunan luas lahan tersebut diakibatkan beralih fungsinya lahan kakao menjadi lahan sawit. Sementara produksi sekitar 700 ton per tahun. Dengan permintaan pasar luar atau dalam negeri menyanggupi berapa pun hasil kakao, pasar selalu menerima.
"Seperti Swiss, itu saja meminta 200 ton per bulan, cuma kita tidak mungkin bisa, karena kita tidak ada barangnya. Tetapi mereka tetap mengirimkan semampunya sana untuk menjalin kerjasama. Sebulan sekali sekitar 1-2 ton," tutupnya.
Editor: Maruly Z