Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat mengatakan, angka tersebut meningkat dari tahun 2022 yang hanya sebanyak 34 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai 87,5 hektare.
Kecamatan yang kerap mengalami karhutla yakni Kampung Labanan Jaya dan Labanan Makmur, Kecamatan Teluk Bayur dan Kecamatan Kelay, Segah serta Tanjung Batu dan Tabalar. "Faktor cuaca ekstrem juga di tahun 2023, jadi kasus karhutla meningkat," sebutnya, Kamis (11/1/2024).
Akibat karhutla, banyak masyarakat yang mengalami kerugian material bahkan mencapai puluhan miliar rupiah. Menurutnya, suhu panas ekstrem dan juga masih banyaknya lahan gambut di Bumi Batiwakkal menjadi faktor terjadinya karhutla. Di sisi lain, membuka lahan dengan cara dibakar juga menjadi penyebabnya.
"Untuk persoalan cuaca cukup besar menjadi penyebab karhutla, mencapai 70 persen,” ungkapnya.
Masyarakat semakin sadar untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Mengingat karhutla pernah membuat dunia pendidikan dan penerbangan setop sementara akibat kabut asap beberapa tahun lalu.
“Kejadian 2015 lalu, benar-benar parah. Masyarakat akhirnya sadar risiko yang harus ditempuh,” ungkapnya.
Nofian juga mengimbau seluruh elemen masyarakat agar selalu memperhatikan kondisi rumah ketika hendak bepergian. Jangan sampai kompor ataupun perangkat elektronik menyala cukup lama ketika ditinggalkan. Kemudian masyarakat yang ingin membuka lahan, sebaiknya dengan cara dirintis bukan dibakar.
Dikhawatirkan bakal membakar lahan yang lainnya. "Biasanya pembukaan lahan dengan cara dibakar saat musim panas, embusan angin bisa membawa bara api ke lahan yang kering,” tandasnya. (*/kk)
Editor: Maruly Z