Namun sejak beberapa hari lalu ubur-ubur tidak menyengat itu tiba-tiba menghilang dari laut Pulau Kakaban yang menjadi pertanyaan para wisatawan terutama mereka yang biasa berinteraksi dengan hewan tersebut.
Hal ini pun menimbulkan kekecewaan dari pengunjung Pulau Kakaban. "Ubur-uburnya tidak terlihat," kata Nindy, pengunjung dari Kota Samarinda.
Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau Ilyas Natsir mengatakan fenomena hilangnya ubur-ubur di Pulau Kakaban tidak dibenar karena diketahui ubur-ubur tersebut hanya berpindah lokasi.
Sebelumnya ubur-ubur tersebut berada di pintu masuk lama yakni di Laguna Kakaban, sementara saat ini ubur-ubur banyak berkumpul di pintu masuk baru yang sedang dibangun Disbudpar Berau. “Saat ini kami memang sedang membuat pintu masuk baru ke Danau Kakaban dan lokasinya tidak jauh dari pintu masuk lama,” kata Natsir kepada Korankaltim.com Rabu (27/12/2023).
Pembangunan pintu masuk baru tersebut, lantaran banyak wisatawan saat berkunjung yang tidak mengikuti tata tertib saat menyelam bersama ubur-ubur karena penyelam atau orang yang berenang bersama ubur-ubur tidak diperbolehkan lompat terlalu keras atau tinggi, sebab dikhawatirkan akan merusak ubur-ubur hingga mati.
“Kami berencana akan membuatkan kawasan khusus untuk wisatawan diawasi penjaga untuk menjaga ekosistem ubur-ubur tersebut,” ucap Natsir lagi.
Sementara Kepala BKSDA Kaltim SKW I Berau Ilyas menyebut, fenomena hilangnya ubur-ubur di Danau Kakaban perlu dilakukan sebuah kajian dan penelitian secara khusus.
Fenomena tersebut pernah dialami tahun 2019 di Danau Lenmakana, Raja Ampat. Berdasarkan data, penyebab ubur-ubur di Danau Lenmakana hilang, karena suhu perairan menunjukkan adanya peningkatan suhu 2,5°c. "Jadi harus diteliti dulu, bisa karena alam atau penyebab manusia," kata Ilyas.
Banyak kemungkinan ubur-ubur tersebut hilang diantaranya turun hingga kedalaman tertentu, pada suhu yang lebih dingin atau mati karena hidup di atas suhu yang melebihi kemampuan adaptasinya. Apalagi pulau tersebut memiliki empat jenis ubur-ubur yakni ubur-ubur bulan (Aurelia aurita), ubur-ubur totol (Mastigias papua), ubur-ubur kotak (Tripedalia cystophora), dan ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata).
"Pulau Kakaban sekarang menjadi kawasan konservasi daerah yang tak hanya menarik bagi dunia wisata, tetapi juga menjadi rumah bagi keberagaman ubur-ubur yang langka," jelas Ilyas.
Editor: Aspian Nur