“Kami ada temukan sampah plastik dari Malaysia,” ungkap Ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Kabupaten Berau (KPMKB) Samarinda Rijal seusai lakukan bersih-bersih sampah di tepi Pulau Maratua bersama masyarakat dan seluruh perwakilan BEM di Kaltim pada Jumat (15/9/2023).
Rijal mengungkapkan, aksi bersih tepi pantai ini sebagai salah satu langkah konkret wujud tindakan dari kaum muda untuk menjaga laut. Terlebih, dalam mewujudkan Blue Economy (ekonomi biru) di Maratua.
Dari hasil tindakannya bersama tim ditemukan banyak sampah yang berserakan. Bersih-bersih ini dilakukan sepanjang tepi pantai di Kampung Teluk Harapan, Maratua. “Jadi selain menggelar diskusi tentang Blue Economy, kita juga lakukan bersih-bersih pantai,” ucapnya.
Menurutnya, dalam mewujudkan Blue Economy segala aspek sangat perlu diperhatikan. Dari kebersihan, sumber daya manusia (SDM), hingga infrastruktur. Sebab, jika pantai telah bersih maka pengunjung baik dari lokal maupun mancanegara akan datang dengan sendirinya menikmati suasana alam yang asri ini. Baik di tepi pantai maupun di dalam laut yang mengancam terumbu karang. “Karena itu pantai kita harus bersih dari sampah, itu tugas utama kita semua. Kalau itu bertumpuk maka akan menjadi hambatan dan pastinya lingkungan akan tercemar,” terang Rijal.
Wakil Presiden BEM KM Universitas Mulawarman (Unmul) Veronica Febby Ola Deo mengaku sangat tertarik dengan kegiatan menjaga kelestarian alam seperti ini. Tentu, harus didukung dan berkelanjutan. “Kami rasa untuk ke depan mahasiswa yang ada di Kaltim harus lebih mengaktifkan kegiatan peduli lingkungan seperti bersih-bersih sampah dan hal lainnya yang perlu ditanamkan dalam jiwa,” sebutnya.
Tokoh Masyarakat Maratua Eeng Pratasaba menyebut kebanyakan sampah yang ada di Pulau Maratua ini kiriman dari negara Malaysia dan Filipina. Sampah dari luar negeri itu terbanyak nanti datangnya saat angin utara yaitu sekitar Januari sampai Maret. “Di Januari sampai Maret itu banyak sampah dari Malaysia dan Filipina melintas dan nyangkut di sini. Itu kendala kita banyak sampah plastik,” akunya.
Editor: Maruly Zainuddin