Analis Pengembangan Infrastruktur, Bidang Pengembangan Pemukiman Penataan Bangunan dan Jasa Konstruksi (P3BJK) DPUPR Berau Dwi Rendra Wulan Putra kepada Korankaltim.com Selasa (22/8/2023) hari ini menjelaskan, faktor dilakukannya rehab pada gapura selamat datang karena dikhawatirkan akan membahayakan masyarakat yang lewat akibat tertimpa baliho yang rusak.
Pasalnya, untuk gapura Selamat Datang yang saat ini, bila ingin memasang baliho atau spanduk pengumuman harus dengan cara menaiki gapura tersebut, sehingga rencana yang merupakan program bupati Berau untuk menerapkan digitalisasi dengan menggunakan videotron.
"Mau modern seperti di Kota Samarinda, jadi tidak ada lagi sampah baliho yang rusak yang membahayakan," ujar Dwi.
Proyek rehab tersebut masih dalam tahap pertama dengan nilai anggaran yang dikucurkan dalam APBD 2023 yakni kurang lebih sebesar Rp2,7 Miliar dengan nilai penawaran penyedia yang terpilih pada proses tender sebesar Rp2,4 Miliar.
"Kegiatan sudah dimulai saat ini, pembongkaran juga sedang dilakukan. Waktu pelaksanaan 150 hari ke depan dengan target penyelesaian pekerjaan pada Desember mendatang," paparnya.
Yang melatarbelakangi rehab dilakukan karena gapura ini merupakan sarana penting yang diperlukan pada satu wilayah. Gapura bukan hanya merupakan bangunan fisik saja, namun lebih memiliki fungsi dan arti tersendiri sebagai pintu gerbang, tanda batas provinsi dan daerah. Gapura ini dibangun dengan nilai-nilai estetika dan ciri khas dari masing-masing daerah. "Dan ini juga akan dijadikan salah satu ikon Kabupaten Berau. Jadi butuh yang lebih modern," ucap Dwi.
Adapun konsep desainnya yakni berarsitektur Neo-Vernacular, merupakan arsitektur yang memiliki prinsip mempertimbangkan peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat serta keselarasan antara bangunan, lingkungan, dan alam.
Dipaparkannya, gubahan massa atau trasformasi bentuk Gapura diakuinya, bangunan dasarnya itu dari balok atau kubus. Keduanya memiliki kesamaan bentukan atap yang cukup dominan berbentuk trapesium. Bagian tengah diberi lubang, agar tekanan angin pada bidang tidak terlalu besar dan tiang terbelah dua melambangkan dua kesultanan.
Serupa cincin yang melingkar diantara dua bentangan kolom penyokong, melambangkan ikatan kerukunan dan keselarasan yang mendominasi perbedaan dua kesultanan besar, yakni Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
Komponen material yang digunakan nanti diantaranya videotron berukuran 6 x 2.5 meter. Kemudian, ornamen ACP lasercuting batik Berau. Lalu, pondasi mengunakan footplat ditambah tiang pancang. Cover bentuk menggunakan ACP. Rangka struktur baja Wf kombinasi dengan Kanal C. "Nanti juga akan ada permainan lampu pada malam hari," ungkap Dwi.
Editor: Aspian Nur