Tema tersebut sangat relevan dengan kehidupan dunia saat ini, mengingat polusi plastik menjadi ancaman nyata yang berdampak pada setiap komunitas di seluruh dunia.
Melalui Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan bahwa sampah plastik yang berakhir di lautan sebagian besar dihasilkan dari sumber polusi darat yang membutuhkan penanganan dengan kerangka hukum dan kelembagaan dalam proses pengelolaan sampah yang komprehensif dengan implementasi yang efektif di tingkat nasional dan daerah sangat diperlukan.
Termasuk pengawasan dalam siklus hidup produk plastik, daripada mengatur pendekatan pencegahan terhadap polusi limbah plastik dari daratan. Sehingga pada bulan lalu UNEP menerbitkan laporan “Turning off the Tap: How the world can end plastic pollution and create a circular economy”.
"Laporan ini mengkaji model ekonomi dan bisnis yang diperlukan untuk mengatasi dampak ekonomi plastik," kata Sri Senin (7/8/2023).
Laporan tersebut mengusulkan perubahan sistem untuk mengatasi penyebab polusi plastik, menggabungkan pengurangan penggunaan plastik yang bermasalah dan tidak perlu dengan transformasi pasar menuju sirkularitas dalam plastik.
Hal ini dapat dicapai dengan mempercepat tiga perubahan utama penggunaan kembali, daur ulang, serta reorientasi dan diversifikasi (Reuse, Recycle, and Reorient and Diversify) dan tindakan untuk menangani polusi plastik.
Sehingga, Pemerintah perlu menargetkan agar bisa mengurangi sampah sebesar 30 persen di tahun 2025 dan dapat menangani tumpukan sampah sebesar 70 persen pada 2025.
Sehingga tahun 2029 produsen dapat mengurangi sampah wadah atau kemasan sebesar 30 persen sehingga hal ini dapat mendorong tumbuhnya bisnis berkelanjutan dan ekonomi sirkuler di Indonesia.
"Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk memiliki kebijakan dan strategi penanganan sampah mulai dari sumber sampah sampai ke pemrosesan akhir sampah," katanya.
"Saya mengajak stakeholder untuk melakukan pembersihan plastik di pantai-pantai, kawasan konservasi, bantaran sungai, tempat-tempat umum dan banyak lagi, sehingga dapat memperkuat budaya kehidupan berkelanjutan kita," pungkas Sri
Editor Aspian Nur