Pasalnya, sejak alat kesehatan tersebut didatangkan ke Puskesmas Tanjung Batu pada tahun 2015 hingga saat ini belum di operasikan secara maksimal.
Wakil Bupati Berau, Gamalis mengatakan, fasilitas kesehatan yang sudah berumur delapan tahun itu perlu dilakukan kalibrasi di luar tenaga teknis.
Selain itu diperlukan untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai tenaga ahli yang akan mengiperasikan alat tersebut, baik operator maupun dokter yang ahli dibidang hiperbarik.
"Karena alat ini bukan sembarangan sehingga diperlukan operator dan dokter yang memang dibidang ini," kata Gamalis Korankaltim.com Senin (7/8/2023) hari ini.
Selain itu, dalam waktu dekat juga akan ada pelatihan-pelatihan untuk memperbaharui lisensi para tenaga ahli yang sudah kadaluarsa.
Dirinya pun berharap, alat kesehatan yang termasuk aet megah ini dapat difungsikan kembali. Memang banyak tahapan yang perlu dilewati, mulai dari kalibrasi, memperbaharui lisensi operator hingga mengadakan pelatihan tenaga dokter di bidangnya masing-masing.
"Kalau dari dokter umum harus disekolahkan kembali khusus spesialis hiperbarik ini. Ketika itu ada, saya yakin dua tahun beroperasi lagi," sebutnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tanjung Batu Supiansa berharap hiperbarik bisa dioperasikan semaksimal mungkin.
Pemkab perlu kerja ekstra untuk menyediakan SDM tenaga ahli dibidang Hiperbarik ini. Seperti menyekolahkan seorang dokter untuk menjadi tenaga alhi hiperbarik disni.
"Karena kami pernah mencoba mencari tenaga diluar selain dari pada yang di sekolahkan ternyata sangat sulit, tenaga terbatas," ungkap Supiansa.
Kalau penkab ingin mengoperasikan kembali alata hiperbarik tersebut, maka harus ada tenaga dokter yang disekolahkan dan ditugaskan melalui ikatan dinas agar mencegah tidak pindah dan betul untuk mengelola hiperbarik ini agar bisa beroperasi.
Editor: Aspian Nur