Untuk diketahui, temu kerja TPPS se-Indonesia merupakan wadah untuk mengevaluasi capaian program percepatan penurunan stunting di daerah pada semester I tahun 2023 dan praktik baik percepatan penurunan stunting di daerah.
Terkait penurunan stunting ini dia menekankan pentingnya menghimpun data yang benar dan akurat sebagai dasar penentuan program dan arah kebijakan percepatan penurunan stunting di Berau. “ Ke depan sebaiknya mempersiapkan diri membuat skema berbasis data yang benar dan akurat," ucapnya, Selasa (4/7/2023).
Menurutnya, data merupakan ujung tombak bagi tim penurunan stunting di tataran desa sebagai penentu keberhasilan penuntasan stunting dan menjadi dasar dalam menyusun perencanaan dan memberikan intervensi terhadap kondisi stunting di Berau.
Dia juga menyayangka masih rendahnya partisipasi dunia usaha di Berau dalam upaya mendukung program percepatan penurunan stunting di daerah ini. Menurutnya, stunting harus ditangani melibatkan multisektor dan multipihak di semua tingkatan pemerintahan serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Sejauh ini jelasnya, perusahaan yang telah turut berperan menjadi bapak angkat bagi anak-anak stunting (BAS) di Berau hanya PT PAMA, salah satu perusahaan pertambangan batubara. "Padahal di Berau banyak sekali perusahaan baik disektor pertambangan maupun perkebunan yang beroperasi," ungkapnya.
Untuk ini Gamalis berharap perusahaan lainnya mengikuti jejak PT PAMA untuk menjadi bapak angkat stunting dan sama-sama memberikan peran dalam menurunkan angka stunting guna meningkatkan kwaslitas hidup masyarakat menghadapi Indonesia Emas 2045, dengan mencapai target prevalensi stunting 14 persen di 2024.
“Karena kedepan akan ada bonus demografi dimana terjadi lonjakan angka usia produktif di Indonesia. Kalau kita kalah bersaing akan menjadi bangsa yang tertinggal” pungkasnya.
Sementara itu, Satgas Stunting Berau, Muhammad Sukriyadi menjelaskan, capaian indikator TPPS Berau pada semester I tahun 2023 menunjukkan persentase kampung di Berau yang meningkatkan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung minimal 10 persen untuk percepatan penurunan stunting.
Pada tahun ini ada peningkatan sebesar 69 persen atau sebanyak 110 kampung dari sebelumnya hanya 76 kampung.
Presentase keluarga anak usia 0-23 bulan dengan gizi buruk yang mendapatkan tata laksana gizi buruk sebesar 100 persen, presentase keluarga anak usia 0-23 bulan dengan gizi buruk yang mendapatkan tambahan asupan gizi sebesar 91 persen dan presentase balita 0-59 bulan dengan berat badan dan panjang/tinggi badan sesuai standar sebesar 81,2 persen.
Capaian beberapa indikator ini menunjukkan bahwa kinerja TPPS Berau sejauh ini telah menunjukkan hasil yang positif dalam rangka percepatan penurunan stunting di Berau. "Ini sekaligus menjadi sumbangsih bagi tujuan pemerintah yang menargetkan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024," pungkasnya.
Editor: Maruly Zainuddin