Berau sendiri masih menduduki angka stunting yang cukup tinggi yang diantara penyebabnya adalah kualitas air yang tidak memenuhi standar sehingga andil kualitas air dalam menurunkan angka stunting sangatlah penting.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua I DPRD Berau, Syarifatul Syadiah. Dijelaskannya, di Benua Etam hingga saat ini angka prevalensi stunting terbilang tinggi yakni mencapai 23,9 persen, naik 1,1 persen ketimbang tahun 2021 yang tercatat 22,8 persen, sedangkan target pemerintah provinsi tahun 2024 mendatang adalah dapat menurunkan hingga menjadi 14 persen.
"Dari 10 daerah yang masuk dalam anggka tertinggi, Berau berada diperingkat tujuh yakni 21,6 persen," jelas Syarifatul kepada Korankaltim.com Minggu (28/5/2023).
Kendati Bumi Batiwakkal sudah menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) namun isu stunting masih tinggi tentu itu akan berpengaruh pada opini kinerja yang akan datang.
"Kami berharap dengan anggaran yang baik dan mensuport program terlayani air bersih, masyarakat kita semakin sehat dan juga angka stunting akan menurun," sebutnya.
Sebab dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta visi misi bupati, sudah menjadi tanggung jawab bersama sebagai pelayanan masyatakat untuk memproritaskan fasilitas air beraih untuk seluruh masyarakat.
Saat dirinya menjabat sebagai anggota DPRD Berau tahun 2014, program PDAM direncanakan awalnya adalah air yang siap diminum. Namun dirinya tidak tahu mengapa dipertengahan jalan berubah menjadi sedemikian rupa seperti yang banyak dikeluhkan masyarakat.
Karena itu Syarifatul meminta dinas terkait untuk melakukan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana pelayanan untuk air bersih, seperti bila ada kerusakan untuk segera diperbaiki dan yang belun tersedia saluran air bersih untuj segera dibangun.
"Mungkin negara maju bisa dijadikan contoh. Memang secara anggaran tidan mencukupi kalau semua harus disuport tapi tergantung skala prioritas," tutup Syarifatul.
Editor: Aspian Nur