Pembahasan dilakukan Senin (6/2/2023) hari ini di Kantor Bupati Berau. Kerjasama ini sudah melalui laporan ke Gubernur Kaltim Isran Noor dan akhirnya tim percepatan kembali menulis surat ke Wakil Bupati Berau untuk mempersiapkan kedatangan Duta Besar (Dubes) Republik Seychelles ASEAN ke Berau.
"Namun sebelum dubes datang ada dua peneliti yang akan datang ke Pulau Maratua dan nantinya kami akan mendampingi dan membawa ke titik mana saja yang akan diteliti" ujar Meiliana kepada Korankaltim siang tadi.
Selain bermanfaat untuk menjaga kesehatan laut, ekonomi biru juga dapat membuka peluang investasi serta pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional karena disribusi pertumbuhan ekonomi.
Sementara Sekretaris Tim Percepatan Kerjasama Pengembangan Strategi Kepariwisataan Kepulauan Maratua, Tri Murti Rahayu menjelaskan, dalam waktu dekat ini tim peneliti akan melakukan Marine Protected Areas (MPA) di Pulau Maratua.
MPA merupakan instrumen yang didesain langsung pada pengendalian sumber daya alam, yaitu berupa penentuan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi.
"Seychelles ASEAN telah menyusun dokumen pengembangan untuk ekonomi biru. Konsepnya dengan menfaatkan Sumber Daya Alam kita yakni terumbu karang, mangrove dan lamun," jelas Tri.
"Kaltim mempunyai potensi terumbu karang secara teori 11x lebih tinggi dari hutan tropis. Jadi potensinya untuk menjadi sumber pendapatan secara daerah bahkan nasional ini lebih tinggi dari hutan tropis,"tuturnya
Potensi yang dimiliki Berau dari Kecamatan Talisayan, Teluk Sumbang terbukti memiliki jenis terumbu karang yang ukuran tangkapannya cukup besar.
"Sudah ada penelitian tapi dari sekitaran Kecamatan Teluk Sumbang, Talisayan dan Maratua, disitu banyak sekali potensi terumbu karang yang bisa dijual. Negara seperti Singapura bahkan Amerika nantinya mereka akan membeli karbon dari situ," tutup Tri.
Editor: Aspian Nur