Sedangkan bukan makanan sebesar Rp 1.170.405 per kapita per bulan. “Yang bisa kami katakan, terlihat jelas dari pola konsumsi masyarakatnya,” ungkapnya kepada Korankaltim, Kamis (19/1/202).
Selain itu, daya beli mulai meningkat lagi oleh sebagian masyarakat di Berau. Secara umum, otomatis konsumsinya mulai meningkat dan garis kemiskinan juga terlihat menurun.
Kendati demikian, sedikit banyak diakui Mega kebijakan pemerintah juga berpengaruh. Seperti, bantuan yang mengalir baik yang bersumber dari daerah, provinsi maupun pusat. Ditegaskan, efektivitas bantuan tersebut memang tidak bisa diukur secara matematis.
“Tapi kami juga sempat menanyakan kepada responden yang mendapat bantuan dari pemerintah, kalau efeknya itu ada, tapi didukung oleh kegiatan lain juga,” terangnya.
Mengingat peningkatan daya beli masyarakat faktornya banyak. Salah satunya bisa saja bantuan mendongkrak daya beli. Terlebih, bantuan juga berasal dari semua lini, ada yang sifatnya langsung ada juga yang dikontrol harga pasarnya oleh pemerintah.
“Seperti kejadian harga minyak goreng pada awal tahun 2022 sangat tinggi dan terjadi kelangkaan. Tapi, berangsur turun setelah ada kontrol pemerintah,” urainya.
Tingginya persentase pengeluaran untuk konsumsi makanan dan minuman jadi serta untuk rokok dan tembakau perlu mendapatkan perhatian lebih. Konsumsi makanan dan minuman jadi memang praktis, namun kandungan gizi dan higienitasnya belum tentu terjamin.
“Akan lebih baik kalau masyarakat mengolah sendiri hasil alam dan menyajikan makanan yang sehat bagi keluarga yang ada di rumah,” jelasnya.
“Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, dan kanker paru-paru,” tambahnya.
Lanjutnya, pemerintah sempat memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat angka pandemik COVID-19 di Indonesia tinggi. Hal itu membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan lebih memilih layanan online.
“Sejak pandemik, masyarakat di Berau khususnya area perkotaan lebih banyak memanfaatkan jasa pangantaran makanan. Baik melalui aplikasi maupun kurir offline,” pungkasnya.
Penulis: Indri
Editor: Rusdi