"Sebelumnya telah ada pembicaraan dari orangtua atau wali murid, pihaknya juga menyetujui usulan tersebut khususnya bagi murid yang tinggal di Tanjung Redeb. Jadi mereka boleh memilih tetap masuk ke SMAN 4 Berau atau menumpang sementara pada sekolah yang telah dipilihkan," jelasnya, Selasa (4/10/2022)
Setidaknya terdapat tiga opsi sekolah lainnya, yakni SMA PGRI, SMAN 1 Berau dan SMA Muhammadiyah. Proses pembelajaran nantinya akan dipantau dari guru masing-masing di sekolah tersebut.
Sementara pihaknya tidak memberikan opsi pembelajaran jarak jauh atau daring, sebab metode tersebut dinilai kurang efisien. “Semua keputusan diserahkan kepada orangtua. Kalau memang orangtua tidak setuju jika harus dititipkan ke sekolah yang ditunjuk, maka tetap seperti biasa masuk di SMAN 4, tapi tetap mengikuti jam yang berlaku. Sebenarnya penitipan sementara itu jauh lebih efisien dari pada menyeberang nanti bisa telat," jelasnya.
Ia tetap menyarankan lebih baik belajar di sekolah lain terlebih dahulu. Hingga kondisi jembatan benar-benar bisa digunakan kembali. Hal itu mempertimbangkan sisi keselamatan, maupun estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang, yang diakuinya memakan waktu tidak sebentar. Apalagi pihak sekolah juga tidak mentoleransi jika ada murid yang terlambat namun disisi lain siswa yang harus menyeberang rawan telat.
“Sekolah tidak bisa mengundur waktu jam masuk sekolah, tetap mengikuti aturan yang berlaku dan kita juga tidak bisa memaksa siswa harus berangkat lebih pagi," pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Maruly Zainuddin