"Saat ini hasil produksi beras dan jagung cukup melimpah, namun petani kesulitan mencari pasar, ketika masyarakat dalam kondisi seperti itu maka mereka mencari peluang baru yang lebih menjanjikan. Saat ini komoditas yang paling menjanjikan adalah perkebunan kelapa sawit, maka terjadilah alih fungsi lahan pertanian ke perkebunan kelapa sawit tersebut," jelasnya.
Dirinya menegaskan, ketika alih fungsi lahan pertanian ke perkebunan kelapa sawit terjadi secara besar-besaran, maka hal tersebut menandakan fungsi dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pertanian sangat kecil.
Menurutnya, pemerintah daerah harus hadir dan memperhatikan para petani, khususnya dalam pemasaran, karena hal itu yang utama sekaligus menjadi kendala terbesar petani.
"Kalau dari bibit hingga pemasaran sudah lancar, maka kehidupan petani tidak terganggu dan sejahtera sehingga tidak mencari alternatif lain yang salah satunya adalah komoditas kelapa sawit," tuturnya.
Dirinya mengaku, sempat mengusulkan kepada Pemkab untuk menyerap beras lokal dari petani. Terjadilah MoU dan terbitnya SK bupati yang mengharuskan PNS Berau mengkonsumsi beras lokal minimal 10 kilogram per bulan.
"Saya rasa program tersebut sudah berjalan, namun belum maksimal, ini khusus di Kecamatan Tabalar terjadi penumpukan gabah pasca panen," pungkasnya. (*/kk)
Penulis: */Tri Romadhani
Editor: Maruly Zainuddin