"Berbagai kegiatan dilaksanakan selama 24 hari. Agenda ini tentunya diharapkan berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat tumbuh dan wisata bangkit. Sehingga dapat membantu kesejahteraan masyarakat," kata Juhri kepada Korankaltim.com Rabu (21/9/2022) siang tadi.
Rangkaian kegiatan tersebut adalah bentuk nyata suatu dukungan pelaksanaan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan program bupati dan wakil bupati Berau.
"Ini bentuk dukungan nyata untuk pembangunan Kabupaten Berau. Karena ada geliat ekonomi dan wisata. Kami pemerintah kecamatan tidak bosan terus mendorong kampung untuk membangun perekonomian dan pariwisata," paparnya.
Sementara Wakil Bupati Berau Gamalis menjelaskan, Pemkab Berau berkomitmen mendukung segala bentuk pelaksanaan dan pelestarian budaya asli daerah, dirinya menyadari ajang budaya bukan hanya mempertahankan tradisi tetapi akan juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata autentik Berau di masa kini hingga mendatang.
"Agenda ini harus terus didorong agar khasanah budaya bahari tidak punah dimakan zaman, dalam upaya tersebut tentu Disbudpar Berau haru berpadu dengan pemerintah kampung," ujar Gamalis.
Diharapkan Kampung Talisayan dan sekitarnya dapat menjadi kampung budaya sehingga destinasi wisata Berau tidak hanya dari bersumber dari destinasi alam dan kekayaan bawah laut saja, tetapi wisata budaya juga bisa menjadi ciri khas daerah seperti di Talisayan, dengan adanya kearifan lokal diharapkan banyak wisatawan datang sehingga bisa meningkatkan perekonomian.
"Saya ingin menyampaikan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada tokoh adat dan seluruh pihak atas kontribusi yang diberikan selama ini dalam menjaga budaya Banuanta, mari kita bersama mempromosikan budaya asli Bumi Batiwakkal," papar Gamalis.
Upacara buang naas ditutup dengan prosesi mandi daun linjuang dan pemotongan puncak rasulsebagai bentuk menolak bala yang bisa membawa bahaya ke Bumi Batiwakkal.
Penulis: Tri Romadhoni
Editor: Aspian Nur