Kepala Kampung Tabalar Muara Jalalludin menyampaikan keluhan masyarakat juga dirinya terkait janji PLN tersebut. Diungkapkannya, listrik menjadi sesuatu yang sangat didambakan masyarakat dimana tangkapan ikan membutuhkan es batu agar tetap segar namun kenyataannya, listrik masih belum masuk di kampung itu. “Kami pakai genset, tapi kan saat ini harga solar mahal dan sulit untuk mendapatkannya,” sebut Jalalludin.
Tidak semua warga di Kampung Tabalar Muara memiliki genset sehingga sebagian rumah warga terang lampu dari listrik genset, sebagian lagi hanya mengandalkan cahaya lilin pada malam hari. “Realisasinya meleset. Katanya Juli, tapi sudah akhir Agustus tidak ada. Harapan kami PLN bisa merealisasikan janji mereka,” tegas Jalalludin.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Manager PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Berau Deny Setiawan menjelaskan, mereka tetap berupaya merealisasikan rencana yang sudah terjadwal, konstruksi tanah yang keras, membuat tiang sulit untuk terpasang dan itu jadi kendala. “Penancapan tiang sudah mencapai 75-80 persen realisasinya,” ungkap Deny.
Kendala tanah yang keras, memaksa PLN untuk mengundurkan waktu pemasangan tiang listrik. Pasalnya dalam satu tiang listrik, dibutuhkan minimal 1/6 tiang tersebut masuk ke dalam tanah, guna mencegah tiang tersebut roboh. “Kontur tanah berbeda dengan yang di Tanjung Redeb. Tanah disana (Tabalar Muara dan Ilir) itu bebatuan. Jadi keras,” jelas Deny lagi.
Untuk panjang tiang sendiri, menurut Deny berbeda-beda. Ada yang 12 meter hingga 14 meter. Di satu sisi, Deny berjanji tahun 2022 ini Tabalar Muara dan Ilir akan menyala.
Deny memastikan tahun ini penyaluran listrik di Kampung Tabalar Muara dan Ilir akan terealisasi.“Kami tetap pada komitmen, tahun ini terealisasi. Target kami rampung sebelum akhir tahun,” pungkas Deny.
Penulis: */Tri Romadhoni
Editor: Aspian Nur