Alasan Berau belum mendapatkan vaksin tersebut, dikatakan Iwan, karena belum ditemukannya suspek PMK. Sedangkan beberapa waktu lalu, ada yang terindikasi, namun setelah uji labotarium dinyatakan negatif. “Karena belum ada kejadian, jadi belum mendapat dosis vaksin,” sebut IWan.
Meskipun belum ditemukan suspek, namun Berau wajib waspada karena penyebaran PMK ini cepat, bisa melalui udara dengan cakupan radius mencapai 10 kilometer atau bisa melalui manusia yang keluar masuk kandang.
Langkah yang paling efektif mencegah penyebaran PMK selain melalui vaksinasi adalah potong bersyarat, jadi hewan ternak yang sudah dinyatakan terjangkit PMK akan disembelih sesuai prosedur kesehatan, sapi yang telah disembelih tersebut akan mendapat kompensasi dari Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Kaltim menerima sekira 5000 dosis vaksin PMK yang disalurkan ke Paser dan PPU sebagai langkah antisipasi, kami berharap Berau juga mendapatkan jatah vaksin tersebut sebagai langkah pencegahan,” ujar Iwan lagi.
Peternak di Berau diminta lebih waspada karena PMK telah masuk ke Kaltim, tidak menutup kemungkinan juga akan menjalar ke Bumi Batiwakkal. Waspada terutama pada aktivitas lalu lintas ternaknya, jangan pernah mendatangkan sapi dari daerah yang memiliki kasus PMK.
“Sapi konsumsi yang ada di Berau mayoritas didatangkn dari Pulau Sulawesi, Distanak selalu melakukan pengawasan ketat terhadap hewan ternak yang masuk ke Berau.Untuk Berau masih aman, jangan sampai di Berau terdapat sapi yang terjangkit karena akan mengganggu perekonomian para peternak,” tutup Iwan.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur