Kepala Kampung Tembudan, Noor Iman menjelaskan, Tembudan terpilih karena berhasil menerapkan ekowisata berbasis low carbon. Selain itu, ada pertimbangan lain yang membuat Kampung Tembudan terpilih yakni, adanya rekomendasi dari stakeholder ekowisata, serta pelaku dan industri pariwisata. Khususnya ekowisata.
"Kemudian, Tembudan dinilai telah mengelola kawasan mangrove dengan menerapkan ekowisata (berbasis sustanable), dan memiliki visitor management yang cukup baik," tuturnya, Senin (13/6/2022).
Menurutnya, program konservasi mangrove di kampungnya sudah lama dilakukan, dengan tujuan menjadikan kawasan mangrove seluas 3 ribu hektar itu menjadi destinasi ekowisata. Begitu juga dengan dengan dilakukannya pelatihan penghitungan carbon, studi kelayakan yang dilakukan peserta bersama tim pendamping, turut menjadi salah satu faktor ditunjuknya Tembudan menjadi salah satu wilayah pilot project tersebut.
"Apalagi mangrove di Tembudan juga cukup luas serta masih sangat alami dan utuh, dibanding mangrove di berbagai kampung lainnya di Kabupaten Berau," jelasnya.
Terkait rencana kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif menjadikan kawasan mangrove di Kampung Tembudan menjadi pilot project carbon footprint pihaknya sangat setuju dan sangat mengapresiasi hal tersebut. Meski, belum ada komunikasi intens dilakukan dengan pihak kementerian.
"Mungkin dalam waktu dekat tim pendampingnya akan datang. Dalam program itu, mereka punya tim pendamping sendiri," ucapnya.
Adanya program tersebut dirasa sangat penting, untuk kemajuan kampungnya. Begitu juga dalam menjaga kelangsungan ekosistem mangrove dari eksploitasi oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Dirinya mengaku, selama ini dalam menjaga mangrove di Tembudan, pihaknya membentuk suatu komunitas yang diberi nama Mangrove Comunity Centre (MCC). Yang mana, komunitas itu, bekerjasama dengan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang konservasi.
"Mereka bertugas menjaga dan melakukan pengawasan secara berkala. Apalagi tahun ini, dalam menjaga mangrove di Tembudan, kami dapat fasilitas berupa perahu cepat, untuk mempermudah pengawasan mangrove," tuturnya.
Dirinya berharap, dengan adanya program pilot project tersebut, dapat berdampak positif bagi pengembangan mangrove Tembudan. Serta, visi membuat kampung ekowisata di Tembudan dapat terealisasi.
"Harapan kami seperti itu. Yang jelas, kami sangat setuju adanya program dari Kemenparekraf itu," pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah