"Kita juga memantau apakah terjadi deforestasi atau alih fungsi lahan hutan," jelasnya, Kamis (2/6/2022).
Upaya penurunan emisi karbon ini bisa dilakukan tentunya dengan kerjasama dari berbagai sektor, sepeti pertanian, perkebunan, dan perikanan. Menurutnya, petani bisa berkontribusi nyata dalam mencegah peningkatan emisi karbon dengan penggunaan pupuk organik dan bibit yang ramah lingkungan. Sehingga limbah pertanian yang dihasilkan tidak merusak lahan.
"Kalau lahan masih terjaga, sangat kecil kemungkinan untuk membuka ladang berpindah. Intinya semua program yang dijalankan harus ramah lingkungan dan berkelanjutan," jelasnya.
Menurutnya, industri kebun kelapa sawit sangat berpengaruh dalam menentukan naik atau turunnya emisi karbon. Pembukaan lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit sangat besar menghasilkan emisi karbon, hal tersebut diperparah jika pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar. Namun, peningkatan emisi karbon hanya terjadi pada pembukaan awal saja, jika sudah ada sawit yang tumbuh, karbon akan mulai tersimpan. Hanya saja presentasenya berbeda.
"Semakin luas areal yang dibuka akan semakin banyak emisi yang dihasilkan. Tapi, semakin banyak yang kita tanam atau tumbuh alami semakin banyak emisi karbon yang bisa diturunkan," paparnya.
Dirinya menyebut, hingga kini jumlah luas hutan yang telah berubah fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 24 persen. Ia menambahkan, perusahaan juga diwajibkan memiliki areal khusus yang tidak boleh dibuka, yang disebut areal dengan nilai konservasi tinggi.
"Kita akan mengevaluasi apakah areal tersebut sudah dikelola dengan baik atau tidak," pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah