“Jadi hanya itu sumber air baku yang ada. Kalau saat ini mencukupi karena memanfaatkan tadah hujan itu tetapi ya terbatas, dan kondisi tersebut diperparah apabila musim kemarau tiba,” tuturnya, Minggu (17/4/2022).
Selain sumber air tersebut, di Kampung Payung-payung juga terdapat sumber air, tetapi hanya bisa dimanfaatkan masyarakat hanya pada musim hujan, karena sumber tersebut pada musim kemarau akan mengering.
“Sehingga tidak bisa dijadikan sumber air pokok oleh masyarakat,” ucapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, masyarakat di Kampung Teluk Alulu dan Bohesilian mayoritas masih memanfaatkan air tadah hujan sebagai sumber utama sebagai pemenuhan kebutuhan seperti mencuci hingga konsumsi. Ia menambahkan di Kampung Bohesilian terdapat alat penyulingan air asin menjadi air tawar.
“Tetapi saya kurang tahu apakah alat tersebut masih berfungsi sampai sekarang atau tidak,” tandasnya.
Kepala Bidang Air Minum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau, Radite Hari Soeryo mengaku, cukup sulit untuk mengolah sumber air tawar yang ada di Kecamatan Maratua, karena harus menggunakan sistem Reverse Osmosis (RO) sehingga membutuhkan biaya operasional yang lebih mahal.
“Karena biaya yang mahal sehingga tidak berfungsi maksimal. Tapi kalau sumber air sudah bagus maka biaya pasti bisa ditekan,” ucap Radite.
Satu-satunya pengolahan air yang berada di Maratua tidak berfungsi optimal, karena empat kampung tidak menyanggupi iuran air. Dikatakan Radite, masyarakat biasa membeli satu profil tank air seharga Rp100 ribu untuk kebutuhan tiga hari, tetapi saat ditawarkan iuran sekira Rp200 ribu setiap bulan untuk menutupi biaya operasional pengolahan air, masyarakat merasa keberatan.
“Kan ini aneh menurut saya, tetapi itu yang kita upayakan untuk mengedukasi masyarakat,” jelasnya.
Selama ini pihaknya mencoba untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut dengan mencari sumber air lainnya, tetapi hingga kini belum ada satupun sumber air alternatif yang ditemukan.
"Untuk sumber lain belum terjamah, masih meraba-raba,” pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah