"Alat kesehatan kita tidak banyak, dan sebagian besar dari Dana Alokasi Khusus (DAK)," tuturnya, Minggu (10/4/2022).
Ia mengakui, banyak tantangan bagi Dinkes Berau untuk menggunakan produk dalam negeri. Menurutnya, produsen dalam negeri harus mampu meyakinkan konsumen untuk bisa membeli produk mereka.
Iswahyudi menambahkan, pengadaan alat kesehatan sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya melengkapi kebutuhan alat kesehatan di Puskesmas yang rusak. Tahun ini pihaknya berencana mengadakan alat inkubator bayi yang bisa digunakan saat dalam perjalanan. Rencana tersebut sudah ada sejak tahun lalu. Dia berharap, tahun ini bisa segera diadakan.
"Jadi kalau dirujuk dan dibawa di dalam ambulans, bayinya bisa ditaruh di tempat yang cukup baik, yaitu di dalam inkubator tersebut," tuturnya.
Dijelaskannya, penggunaan produk luar negeri lebih banyak digunakan oleh rumah saki dari pada Puskesmas. Sebab, alat kesehatan bisa bertahan lebih lama dan awet. Sehingga, tidak gampang rusak dan beli terus.
"Contoh saja gunting, dari harga yang termurah hingga paling mahal ada semua. Tapi produk dalam negeri yang biasanya murah, hanya bisa bertahan sekira satu tahun penggunaan. Setelah itu, sudah tidak tajam lagi," pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah