“Intinya apapun yang dikonsumsi secara berlebih pasti tidak baik untuk kesehatan,” ucapnya.
Menurutnya, penyakit regeneratif atau tidak menular saat ini kondisinya semakin meningkat, hal itu disebabkan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat yang sudah bergeser menjadi kurang sehat. Menjamurnya makanan cepat saji dan kurangnya olahraga juga menjadi penyebab menurunnya kondisi kesehatan masyarakat. “Pola hidup sehat harus dijaga,” tandasnya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Berau, Nurhayati menuturkan, berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Berau, tiga penyakit tidak menular dengan penderita terbanyak di tahun 2021 adalah hipertensi dengan 11.969 penderita, obesitas dengan 5.384 penderita, dan kolesterol terdapat 3.78 penderita. “Angka tersebut sudah menurun ,” ucap Nurhayati.
Diakuinya, hingga kini Dinkes Berau belum pernah melakukan penelitian lebih lanjut terhadap korelasi konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan dengan jumlah penderita penyakit tidak menular. Lebih lanjut ia menjelaskan, seluruh penderita yang tercatat telah dilakukan penanganan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
“Kita lakukan penanganan dari Puskesmas, karena di sana adalah tempat kita bisa menjangkau banyak masyarakat,” tuturnya.
Untuk menekan angka pertumbuhan penderita penyakit tidak menular, Dinkes melakukan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengedukasi masyarakat dan membuka konseling terkait gaya hidup dan pola makan. Salah satu programnya adalah dengan CERDIK, yakni cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stress dengan baik.
“Kesehatan tentunya berasal dari pola hidup yang sehat,” pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah