Mayoritas penyakit yang diderita warga binaan adalah infeksi saluran pernapasan, gatal, TBC, hingga beberapa penyakit bawaan. “Bahkan ada beberapa kasus komplikasi karena kebiasaan mengkonsumsi narkoba dan minuman beralkohol,” ungkap Herman.
Kepala Rutan Kelas II B Tanjung Redeb Puang Dirham mengakui kalauu mereka hanya memiliki klinik yang dijaga oleh seorang petugas perawat. Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada, apabila terdapat warga binaan yang sakit, petugas akan melakukan pengecekan di klinik.
Kalau petugas perawat tidak bisa melakukan penanganan maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai Berau.
“Sudah lama kami mengusulkan penambahan tenaga kesehatan tapi belum dapat. Tapi kami tidak berdiam diri, memperbarui SOP-nya dengan teknologi, dengan penambahan tombol panic button di setiap kamar yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada komandan jaga apabila ada yang sakit dan memerlukan pertolongan cepat,” kata Dirham.
Untuk membawa warga binaan ke rumah sakit juga ada kendala, yaitu mobil ambulans yang sudah tua, sering mogok sehingga petugas harus mendorong sebelum mengendarainya. Selain itu, pembiayaan pengobatan yang seharusnya ditangani oleh BPJS kesehatan karena termasuk kategori warga terlantar juga kerap bermasalah karena berkas yang dimiliki warga binaan terkadang tidak lengkap.
“Bahkan ada diantara warga binaan ini yang tidak memiliki kartu identitas. Kami harus memaksimalkan tindakan, bagaimana caranya selama tidak melanggar SOP pasti kami lakukan pelayanan prima,” papar Dirham lagi.
Saat ini meski pengadaan obat di klinik selalu dilakukan namun hanya sampai bulan Juli 2022 mendatang. Pihaknya setiap tahun telah melakuan pengadaan obat untuk klinik, namun karena keterbatasan anggaran, ketersediaan obat diperkirakan hanya cukup hingga bulan Juli mendatang.
Untuk mengatasi kekurangan stok obat, Rutan melakukan kerjasama dengan Dinas Kesehatan Berau melalui Puskesmas Kampung Bugis. Dengan begitu tak hanya obat yang didapat tapi juga tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat yang melakukan pemeriksaan setiap dua kali dalam satu minggu.
Penulis : */Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur