Kepala BPS Berau Bahramsyah menjelaskan, perhitungan dinilai dari kenaikan Produk Domestik Regional Brut (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) yang selumnya hanya Rp27,3 juta menjadi Rp28,8 juta
Ekspor netto merupakan sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi jika dibandingkan dengan komponen penyumbang lainnya, yakni sebesar 5,27 persen.
“Pertumbuhan volume barang dan jasa sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Bumi Batiwakkal, bukan dari kenaikan atau penurunan harganya,” kata Barhamsyah kepada Korankaltim.com Jumat (25/2/2022) hari ini.
Dari 10 daerah di Kalimantan Timur, Berau menduduki peringkat kedua dengan pertumbuhan ekonomi terbesar setelah Kabupaten Paser yang sebesar 5,41 persen. Namun, kontribusi Berau terhadap struktur perekomomian Kaltim pada 2021 masih tergolong rendah, berada di posisi empat terbawah.
“Yang paling besar Kutai Kartanegara dengan 25,50 persen, sedangkan Berau hanya menyumbang 6,19 persen,” tuturnya.
Beberapa peristiwa yang terjadi sepanjang 2021 turut berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Berau seperti permintaan batu bara oleh Tiongkok dan India yang meningkat, peningkatan volume komoditas ekspor, dan kenaikan harga tiket pesawat.
“Saya rasa semua peristiwa bisa berpengaruh terhadap ekonomi, intinya kepada bagaimana menggerakkan sektor atau lapangan usaha yang ada,” jelas Bahramsyah.
Perumbuhan ekonomi juga berpengaruh terhadap penghasilan per kapita penduduk Berau namun juga bisa tidak berpengaruh apabila trend pertumbuhan penduduk naik terlalu drastis karena untuk mengatahui pendapatan per kapita adalah dengan membagi total pendapatan daerah dengan jumlah penduduk.
“Yang penting pertumbuhan penduduk tidak terlalu derastis naik, dan juga pertumbuhan ekonominya positif, jika hal tersebut terjadi otomatis semakin meningkatkan pendapatan masyarakat, karena itu berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat,” tutup Bahramsyah.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur