"Data yang kami miliki dari triwulan akhir 2021 hingga 4 Februari ada 63 kasus. Itu yang dirawat di RSUD, tidak termasuk di puskesmas lain," tuturnya.
Dikatakan Erva, dunia kesehatan saat ini sedang fokus penanganan Covid-19, yang menjadikan layanan kasus DBD berkurang. Ia menambahkan, angka kasus DBD yang terjadi pada awal tahun 2022 mayoritas yang tertular adalah anak-anak. Sehingga masyarakat harus berperan aktif dalam pencegahan penularan DBD.
"Dengan kondisi seperti ini, maka masyarakat diharapkan lebih siap untuk melakukan tindakan pencegahan," ujarnya.
Meskipun tidak ada korban meninggal, namun tetap saja penularan virus tersebut sangat berbahaya. Sebab, apabila penanganan dilakukan lambat, pasien DBD bisa saja berujung kematian.
"Tidak boleh disepelekan penyakit ini. Karena, sama bahayanya dengan Covid-19," terangnya.
Ia melanjutkan, untuk mengantisipasi berkembangnya jentik nyamuk di sekitar rumah, pernah ada ada program satu rumah satu juru pemantau jentik, yang dilakukan secara rutin oleh puskesmas. Kini karena tengah fokus penangan Covid-19, program tersebut tidak bisa rutin lagi.
Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak menyadari lagi untuk melakukan kebiasaan melakukan tindakan menguras, menutup dan mengubur (3M), terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menjadi sarang nyamuk berkembang biak.
"Padahal itu menjadi kunci penting. Mau tidak mau, mestinya masyarakat tetap harus melakukan. Karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi penyebaran nyamuk pembawa DBD ini," sambungnya.
Menurutnya, kasus DBD ini sebenarnya setiap waktu selalu ada. Kasus DBD akan semakin tinggi terjadi pada awal-awal musim hujan dan akhir musim hujan. Terutama di akhir musim hujan di mana volume hujan tidak terlalu deras tetapi seringkali menimbulkan banyak genangan air dimana-mana.
"Secara umum nyamuk Aedes Aegypti senang tinggal di air yang relatif jernih, utamanya di bak-bak mandi di rumah. Karenanya sepanjang tahun nyamuk ini selalu ada sehingga penularannya juga sepanjang tahun, tetapi peningkatan paling tajam di awal dan akhir musim penghujan," tandasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah