Selain itu, wacana pembangunan Rumah Sakit Tipe B yang berada di dekat lokasi TPA memunculkan opsi lain berupa relokasi TPA.
“Mau relokasi atau tidak, lahan yang ada tetap harus diperluas untuk pembuatan lubang. Anggaplah opsi relokasi, tempat ini kan tetap sampah yang sudah ada dan tidak bisa kita biarkan, apalagi tidak relokasi, jadi tetap kami lakukan perluasan untuk membuat lubang,” kata Gamalis siang tadi.
Permasalahan lain yang dihadapi petugas kebersihan adalah alat yang ada kondisinya sudah tidak baik dan dibutuhkan peremajaan. Buldoser yang ada sudah tidak mampu mendorong sampah yang menggunung.
“Gara-gara buldoser tidak baik tempat ini jadi Bentang Takeshi (acara permainan realitas asal Jepang), tapi memang kondisinya di dalam sudah padat. Keputusan untuk merelokasi atau tidak itu kembali ada di tangan bupati yang menentukan, saya hanya bisa melaporkan kepada beliau kondisi yang ada ini sudah darurat sampah, sementara kondisi alat sudah banyak yang rusak,” papar Gamalis.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau Sujadi membenarkan apa yang disampaikan Gamalis. Menurutnya, disamping kondisi alat yang sudah tua, akses untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa solar juga sulit.
“Alat yang saat ini berfungsi hanya tinggal satu dari sebelumnya empat alat yang beroperasi,” ucap Sujadi.
Total lahan TPA Bujangga sekitar 11,1 hektare, tetapi yang terpakai baru dua hektare. Solusi jangka pendek yang dirasa paling tepat adalah pembuatan lubang dan peremajaan alat karena dalam sehari TPA harus menampung 70 ton sampah.
“Memang terjadi peningkatan di tahun sebelumnya yang hanya 60 ton per hari. Cuma ini kan bisa meningkat karena kedislipinan masyarakat untuk memilah sampah yang masih kurang. Semua sampah dikumpul terus buang, kayu, plastik, kertas jadi satu semua dibuang,” jelas Sujadi.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur