Tahun 2021 Angka Gizi Buruk di Berau Menurun
2 menit baca351 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Sepanjang tahun 2021, angka gizi buruk di Kabupaten Berau tercatat hanya lima kasus.
Dibanding dengan tahun 2020 yang mencapai 26 kasus, angka ini jauh menurun.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Iswahyudi kepada Korankaltim.com Rabu (12/1/2022) siang tadi mengatakan, balita gizi buruk atau malnutrisi adalah kondisi ketika anak tidak menerima nutrien, mineral dan kalori yang cukup untuk membantu perkembangan organ vital.
Gizi buruk akan berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak. Diagnosis yang tepat pada masalah balita gizi buruk penting untuk mencegah konsekuensi yang lebih berat pada masa mendatang.
Pengobatan balita gizi buruk bisa dilakukan sendiri di rumah jika masih pada tahap awal. Bila sudah terlalu berat, masalah gizi itu mesti ditangani di rumah sakit, sementara pengobatan di rumah sakit membutuhkan obat-obatan dan suplemen bagi balita.
“Ketika diketahui ada tanda gizi buruk, sebaiknya balita segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Untuk mencegah masalah gizi ini, para orang tua diharapkan menerapkan pola makan diet seimbang pada anak dan memastikan layanan dasar mereka tercukupi,” kata Iswahyudi.
Gizi buruk akan berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak. Kurangnya asupan makanan bisa memicu kekurangan nutrien yang penting hingga berujung pada gizi buruk.
Nutrisi yang baik sangat penting untuk mencegah balita gizi buruk dan memastikan perkembangan buah hati, terutama pada usia awal.
Nutrisi ini bisa didapatkan bahkan sejak bayi dalam kandungan. Fase utama kebutuhan gizi balita adalah sejak masa kandungan hingga berumur dua tahun.
“Saat itu, organ-organ yang penting, termasuk otak, membutuhkan asupan nutrisi yang baik untuk bisa berkembang sepenuhnya. Ketika nutrisi tidak tercukupi, terjadi risiko balita gizi buruk,” paparnya.
Banyak faktor yang menjadi penyebab anak mengalami gizi buruk. Kelebihan asupan nutrisi juga menyebabkan balita gizi buruk. Karena itulah penting untuk menjalankan diet gizi seimbang untuk menjaga kadar nutrien yang cukup di dalam tubuh. “Masih ada lagi beberapa faktor lainnya yang mendukung terjadinya gizi buruk,” sambungnya.
Faktor lainnya adalah kurangnya asupan makanan yang bisa memicu kekurangan nutrien penting hingga berujung pada gizi buruk.
Makan secara tidak teratur juga bisa memicu masalah pencernaan dan malnutrisi. Kurang ASI, air susu ibu bagi anak yang baru lahir sangat penting karena mengandung nutrien penting.
Kurangnya ASI berisiko menyebabkan bayi gizi buruk. Kurang aktivitas, pencernaan tidak akan berjalan lancar jika anak kurang beraktivitas hingga memicu malnutrisi.
“Fasilitas layanan dasar buruk. Sejumlah layanan dasar, misalnya sanitasi, yang buruk juga bisa memicu masalah gizi,” tutup Iswahyudi.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur









