“Kita terus lakukan pendekatan, karena gangguan kejiwaan sifatnya tidak bisa langsung main angkut saja, kita harus menggunakan perasaan coba didekati berkali-kali,” jelasnya, Minggu (9/1/2022).
Ia melanjutkan, sudah banyak pasien yang berhasil ditangani. Diakuinya, perawatan ODGJ agar bisa sembuh tidak sesederhana itu. di rumah sakit pun harus tertangani dengan benar. Bukan hanya masuk kerangkeng lalu dikunci dan dibiarkan.
“Kalau hanya dikurung di rumah sakit itu apa bedanya dengan dipasung, kan sama saja,” tegasnya.
Menurutnya, kunci kesembuhan ada di peran keluarga. Sehingga keluarga bisa mengayomi dan memanusiakan pasien. Namun, karena pendidikan dan fasilitas yang dimiliki sebagian besar masyarakat Berau masih rendah, sehingga tidak punya kemampuan untuk melakukan perawatan dengan baik. “Peran serta keluarga sangat penting meski ada intervensi dari obat-obatan dan dokter, tapi itu tidak mungkin seratus persen. Keluarga yang utama,” tandasnya.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa, Nurhayati menuturkan, dari 412 pasien ODGJ, 40 pasien masuk dalam kategori berat dan enam pasien dirawat di RSUD Abdul Rivai. Sementara pasien yang dipasung berada di Kecamatan Gunung Tabur dan Tanjung Batu.
“Yang pasung ini sudah pernah kita evakuasi dan mendapatkan perawatan, kemudian saat dikembalikan ke keluarga, obatnya habis dan keluarga tidak melapor ke petugas akhirnya kambuh kembali dan kemudian dipasung,” jelasnya.
Ia mengatakan, jika terkait dengan ketersediaan obat, petugas dan fasilitas perawatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit sudah tersedia. Diakuinya, tidak mungkin petugas selalu mengawasi pasien untuk rutin minum obat. “Jadi kita melibatkan keluarga, cuma dari keluarga ini yang mungkin ada faktor kesibukan dan ekonomi sehingga kurang untuk melakukan perawatan ke pasien,” sambungnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2017, ada sekitar 17 pasien ODGJ yang dipasung oleh keluarganya. Seiring berjalannya waktu kini tersisa dua pasien. Untuk Berau satu-satunya Kabupaten di Kaltim yang memiliki ruang rawat pasien ODGJ. Sebab, jika ingin dirujuk ke samarinda selain biaya mahal, belum tentu juga pasien da jaminan. “Selain Samarinda, hanya Berau yang memiliki ruang perawatan bagi pasien ODGJ,” pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan