"Kalau yang menggunakan keramba itu hanya segelintir saja, mayoritas langsung menangkap di laut," tuturnya kepada KoranKaltim.com, Rabu (22/12/21)
Ia menjelaskan, sekira 15 hingga 20 tahun lalu, Maratua juga dikenal sebagai penghasil teripang dan mutiara. Namun, sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang.
Menurutnya, penyebab berkurangnya jumlah teripang dan mutiara disebabkan karena penangkapan besar-besaran yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Sekarang masih ada tapi tidak banyak, mungkin karena sering ditangkap jadi hewan laut tersebut berpindah tempat," sambungnya.
Selain itu, dikatakan Ariyanto, nelayan Maratua juga sempat mengembangkan komoditas rumput laut. Namun, saat ini sudah tidak ada lagi, mengingat rumput laut adalah makanan kesukaan penyu.
"Memang makanan alami penyu, rumput laut banyak yang rusak karena dimakan oleh penyu, para petani pun tidak bisa berbuat banyak karena penyu hewan yang dilindungi," ungkapnya.
Ia mengatakan, petani rumput laut Maratua mampu menghasilkan produksi sesuai standar permintaan pasar. Diakuinya, dulu rumput laut asal Maratua sempat dipasarkan hingga ke luar daerah seperti Pulau Sulawesi. Menurutnya, saat ini sudah tidak ada lagi petani rumput laut di Maratua.
"Masyarakat pun saya lihat belum ada yang tertarik untuk mengembangkan potensi rumput laut ini. Dulu banyak petani rumput laut, karena Pulau Maratua berbentuk seperti huruf U biasanya di bagian dalam pulau petani biasa mengembangkan rumput laut, kalau di luar kan gelombang cukup besar," jelasnya.
Ia menambahkan, terkait bantuan dari pemerintah baik itu dari kabupaten hingga pusat, ia rasa sudah cukup. Ia menyebut, bantuan biasanya berupa peralatan untuk keramba maupun pancing bagi nelayan, selain itu juga ada bantuan perahu. "Kami disini ada musyawarah kampung biasanya untuk menentukan apa yang diperlukan masyarakat, itulah yang menjadi dasar kami untuk mengajukan bantuan ke pemerintah," pungkasnya.
Penulis : */Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan