Kepala Operasional PT Sinang Puri Energi (PT SPE), Franly Aprilano Oley menjelaskan, PT SPE merupakan salah satu unit Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) yang mengelola PLTS di kampung tersebut.
"Kami dapat PLTS itu sejak 2015 dari pihak ketiga, yakni Millenium Challenge Corporation (MCC)," jelasnya Selasa (7/12/2021).
Ia mengatakan, pembangunan PLTS memakan waktu kurang lebih dua tahun, dan sudah aktif digunakan sejak 2018. Hingga saat ini PLTS sudah tersambung ke 131 bangunan yang terdiri dari rumah warga hingga sarana dan prasarana kampung, termasuk balai pertemuan dan sekolah.
"Nilai investasi yang kita terima itu sekira Rp20 hingga Rp30 miliar di tahun 2015," tuturnya kepada KoranKaltim.com
Untuk tarif listrik, pihaknya tidak mematok harga lebih tinggu dari harga yang ditetapkan oleh negara. Selain itu dikatakan Franly, pihaknya masih mendapat pendampingan dari developer terkait manajerial dan teknis.
"Jadi kalau sekarang harga listrik negara itu Rp 1.461/kwh maka kami Rp 1.460 /kwh. Selain itu, kami juga masih terkoneksi dengan developer jadi kapanpun dimintai arahan semisal ada kendala yang terjadi itu masih bisa," sambungnya.
Ia menambhakan, untuk tenaga yang dihasilkan maksimal bisa mencapai 300.000 watt, menurutnya yang menjadi tantangan pihaknya adalah pemakaian tenaga yang masih kecil. Jika malam hari, penggunaan mencapai 2 kilo watt dikali dengan 12 jam, dan untuk baterai masih mencukupi, jadi listrik sudah 24 jam.
"Yang sekarang terpakai kalau siang itu hanya 15.000 watt jadi surplus sangat banyak. Jadi kalau ingin dibuat pabrik industri kecil yang memakan listrik hingga 100.000 hingga 150.000 watt itu masih cukup," pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan