Ia menuturkan, masih tingginya tingkat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) menjadi salah satu faktor pendukung terjadi stunting di Bumi Batiwakkal. Ia berharap, agar para ibu yang sedang mengandung, rutin memeriksakan kandungannya tersebut.
“Yang termasuk bayi dengan berat lahir rendah ini adalah yang kurang dari 2.500 gram. Pencegahan stunting, bisa dilakukan sejak dalam kandungan juga,” jelasnya, Senin (22/11/2021).
Ia melanjutkan pada tahun 2019, kasus stunting di Berau yakni berada pada angka 13,90 persen atau 1.487 dari 10.701 balita ditimbang. Pada tahun 2020 tercatat ada 18,06 persen dari 10.735 balita ditimbang.
Lamlay mengatakan, orangtua sebenarnya tidak perlu panik. Karena stunting bisa disembuhkan, selama si anak masih berusia di bawah dua tahun.
“Jika sudah di atas lima tahun itu, potensinya kecil ya untuk bisa sembuh,” ucapnya.
Menurutnya, tujuan pendataan stunting ini sebenarnya, untuk mempersiapkan lokasi khusus (lokus) wilayah yang akan ditangani. Terlebih pada tahun 2022, Berau masuk dalam Lokus bersama dengan Penajam Paser Utara (PPU), Mahakam Ulu, dan Bontang. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Bupati Berau nomor 440/418/Set-1/XI/2021 tentang Pelaksanaan Pendataan Sasaran Untuk Penentuan Desa Lokus Penurunan Stunting.
“Jelas beda kasus, gizi buruk dan stunting. Gizi buruk itu tingginya normal, namun malnutrisi,” jelasnya.
Ia menambahkan, semua stakeholder berperan penting dalam hal ini. tidak hanya dari segi kesehatan melainkan dari pangan, Dinas Sosial turut berperan penting, guna mencegah angka stunting meningkat.
“Selain faktor yang saya sebutkan tadi, pengaruh makan juga berpengaruh. Kita tahu, hasil panen kita melimpah. Karena dibilang faktor ekonomi, saya rasa tidak terlalu berpengaruh ya ke stunting,” pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan