“Memang untuk saat ini, data pemasaran belum pegang. Kami ini OPD teknis cenderung ke budidaya untuk memproduksi hasil peternakan,” jelasnya pada Kamis (4/11/2021).
Produk peternakan cenderung lebih dikuasai oleh pelaku usaha tertentu. Ia mencontohkan daging sapi ditentukan harganya oleh penjagal, untuk komoditi ayam potong harganya dikendalikan perusahaan kemitraan dan telur oleh peternak itu sendiri, sementara pemerintah hanya berperan sebagai pembina dalam produksi.
“Karena biaya produksi yang lebih tahu pelaku usahanya,” kata Widodo.
“Paling masalah harga yang terlalu tinggi,” sambungnya.
Namun untuk produksi peternakan hampir semua diminati baik daging dan telur sementara produk susu hingga kini masih didatangkan dari luar daerah. Dikatakannya, hasil ternak yang paling berpotensi memberi dampak ekonomi langsung kepada peternak adalah daging kambing dan sapi, serta ayam petelur. Sementara ayam potong oleh perusahaan kemitraan.
“Peminatnya banyak kalau soal itu,” paparnya.
Disisi lain, Widodo juga mengaku hingga kini, Berau masih impor susu murni dari Pulau Jawa.
Faktor ini dikarenakan tidak ada peternak sapi perah maupun kambing perah di Bumi Batiwakkal.
“Tergantung distributornya, tapi kebanyakan dari Jawa karena produsennya ada disana,” tutup Widodo.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur