Menurutnya, hal ini sangat memberatkan masyarakat ekonomi rendah, khususnya untuk masyarakat Kabupaten Berau.
“Harga tiket saat ini sudah di atas Rp 1 juta. Belum lagi PCR yang Rp 500 ribuan. Ini sangat memberatkan,” tuturnya, Senin (25/10/2021).
Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih melihat bagaimana kondisi yang ada di daerah sebelum menerapkan peraturan. Terlebih ini berkaitan dengan tansportasi jarak jauh yang digunakan masyarakat. Jika dilihat dulu letak geografis suatu wilayah, kalau menyamaratakan semua wilayah Indonesia, tentu banyak wilayah atau daerah yang sebelumnya dimasuki banyak maskapai, memilih memberhentikan sementara penerbangan karena tidak banyak masyarakat yang menggunakan transportasi udara.
“Akhirnya masyarakat yang menjadi korban. Sebelumnya kita ada Garuda, Sriwijaya, dan Lion. Sekarang akibat kebijakan itu, jumlah penumpang menurun juga. Akhirnya maskapai memilih stop sementara penerbangan ke Berau,” tegasnya.
Politkus Partai NasDem ini mengungkapkan, saat ini Berau memang masih berada pada PPKM level 3. Hal ini bukan karena tingginya jumlah kasus, namun karena masih rendahnya vaksinasi.
“Kita memang level 3. Saya berharapnya, agar syarat naik pesawat diturunkan menjadi hanya menggunakan antigen dan bisa menunjukan bukti dua kali vaksin,” ucapnya.
Moda transportasi yang diwajibkan untuk menunjukan hasil negatif PCR hanya untuk transportasi udara, sedangkan perjalanan darat dan laut hanya menggunakan antigen. Ia menilai, hal ini seharusnya disamaratakan yakni hanya menggunakan antigen. Karena biaya yang murah dan tidak memberatkan masyarakat.
“Kenapa tidak antigen saja. Jika saat antigen ada gejala, baru dilanjutkan dengan PCR,” paparnya.
Berau memang hanya memiliki satu bandara. Untuk maskapai juga hanya dua yang beroprasi yakni Wings Air dan Susi Air. Sedangkan Susi Air hanya melayani rute lokal yakni Bandara Kalimarau menuju ke Bandara Maratua. Tentu dengan penerapan PCR ini, menurutnya menjadi beban tersendiri bagi masyarakat.
“Saya terkadang berpikir, apabila ada orang sakit dan harus dirujuk ke Samarinda. Betapa ribetnya mengurus PCR dan ini itu. Belum lagi harga tiket yang mahal,” pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan