Dinsos Berau menurutnya sudah melakukan tindakan sesuai ketentuan yang ada, yakni memberi hunian sementara dan menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji kepada 15 orang yang merupakan enam keluarga tersebut.
Tempat tidur darurat juga telah ditambahkan ke rumah singgah karena jumlah penghuni yang banyak. Bantuan yang diterima dari organisasi kemanusiaan juga sudah diserahkan kepada mereka.
“Kami menerima penyaluran, bukan sebagai yang memberi bantuan. Maksimal kami hanya bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari selama mereka berada di rumah singgah,” kata Selamet.
Karena keluarga yang tinggal di rumah singgah tidak memiliki sanak saudara di Berau, Dinsos membantu untuk menampung mereka hingga mendapatkan rumah kontrakan yang baru.
“Memang rata-rata yang berada di rumah singgah sebelumnya mengontrak di rumah kontrakan yang terbakar,” jelasnya lagi.
Seluruh keluarga yang ditampung tersebut masih memiliki pekerjaan, sehingga masih memiliki penghasilan untuk mencari rumah sewa yang baru. Dinas Sosial akan terus menampung keluarga tersebut hingga mereka mendapatkan rumah sewa yang baru.
“Sampai kapanpun merka masih bisa tinggal di rumah singgah,” tegas Selamet.
Sebenarnya dalam aturan, rumah singgah maksimah hanya bisa menampung tujuh hari untuk mereka yang terlantar tapi karena ini merupakan kejadian luar biasa, sehingga ia tidak memberi batas waktu tertentu.
“Dikhawatirkan nanti mereka malah stres dan traumanya bertambah,” papar Selamet.
Seperti diberitakan sebelumnya, enam rumah dan satu bangsalan berupa rumah kontrakan 7 pintu ludes dilalap si jago merah Rabu (15/9/2021) pagi kemarin sekitar pukul 06.00 WITA di Kelurahan Sambaliung, Kecamatan Sambaliung yang diduga karena korsleting listrik.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur